4.09.2012

Rumah



Aku ini rumahmu..
Atap rumbiaku menaungimu, dari hujan, dari panas.
Tiang condongku menopangmu, dari segala macam badai yang meruntuhkan.

Aku ini rumahmu..
Pagar bakung layu ini mengelilingimu, pagi, siang, malam, selalu mengelilingimu.
Lantai tanah ini tempatmu berdiri tegak, tempatmu menapak, tempat yang membuatmu selalu ingat dimana kau berpijak.

Aku ini rumahmu..
Aku hanya punya sumur dengan timba dan embernya yang sudah bolong di sana-sini, namun selalu berusaha untuk bisa menampung air sebanyak yang kau minta.
Aku tak punya beranda keramik semengilap porselen, aku hanya punya beranda roboh yang siap membiarkanmu dan menjadi saksi bisumu memecah kesunyian dalam senja menjelang malam.

Aku akan tetap jadi rumahmu..
Aku akan tetap jadi tempatmu berteduh.
Aku akan tetap jadi tempatmu bersandar.
Lantaiku akan tetap menjadi tempatmu berdiri tegar.
Sumurku akan senantiasa memberimu air segar.


Aku reyot, aku tua, aku tak punya apa-apa,
namun aku akan tetap menjadi rumahmu, tempatmu kembali pulang.




-Saat bosan di rumah manis rumah,
Senin malam, 9 April 2012-
Post a Comment