9.12.2012

Selagi Aku Menulis

Selagi aku menulis
Tolong tinggalkan aromamu di sini, entah itu cengkih, kayu manis, vanila ataupun yang lainnya. Aku hanya butuh sentuhan klasik untuk mempertahankan koneksiku terhadap deretan keyboard pekat yang selalu setia menungguku untuk menekannya perlahan.

Selagi aku menulis
Tolong semayamkan parasmu dalam memoriku, entah itu tampan atau tidak sungguh tak masalah.Aku hanya ingin menjadikan wajahmu sebagai inspirasiku agar aku tak perlu lelah-lelah mencarinya jika suatu saat aku kehabisan kata untuk dirangkai, dan kehabisan kalimat untuk didendangkan pelan.
Dan berharap dengan melihatmu tetap di sana akan mengembalikan sang inspirasi datang kembali untuk mendekapku.

Selagi aku menulis
Tolong murahkan senyummu, tunjukkanlah deretan gigi-geligi rapimu.
Aku hanya butuh segigit kecil spirit agar aku bisa lebih mengimani dan memahami setiap hal kecil yang kutuangkan dalam sebuah media semu namun nyata.

Selagi aku menulis
Tolong rendahkan hatimu dan bersikaplah lebih bersahabat padaku, pada syaraf-syarah neuronku, pada kedua mata minusku yang sudah hampir jemu.
Aku hanya butuh penyemangat dari segi kelembutanmu dan kecintaanmu agar bisa tetap bertahan sebaik mungkin pada jalan yang aku ambil saat ini dan pada jembatan yang akan kuselesaikan nanti.

Dan pasti, selagi aku menulis
Tolong tangguhkan waktumu untukku, di sini, sebentar saja, hanya sebentar.
Aku tak butuh hitungan dekade untuk menyelesaikan ini semua, asalkan itu tadi, kau mampu menuruti permohonanku, kau tetap di sini untukku bersama aroma khasmu, bersama paras indahmu, bersama senyum manismu dan bersama hati padumu.
Post a Comment