6.02.2013

Selamat Malam

Saya benci harus berbagi kabar buruk ini lagi,namun entah sudah yang ke berapa ratus kalinya saya melewatkan malam Minggu tanpa ingat bahwa saya harus menyambangi rumah kamu.
Bawakan kamu sebuket bunga, atau mungkin yang lebih sederhana, cukup sebungkus martabak saja.
Berita baiknya, kamu tak pernah berkesah sekali saja tentang keabsenan saya mendatangimu, memberikanmu kenyamanan dalam ritual apel malam Minggu seperti sepasang kekasih lainnya.
Saya tahu, alih-alih merengek pada saya, kamu akan lebih sibuk berdoa pada Tuhan beserta malaikatnya untuk keselamatan saya bersama sang cakrawala.

Saya senang karena malam ini saya tak lagi harus melewatkan malam tanpa kamu.
Meski hanya malam ini saja, walaupun ini bukan malam Minggu juga, setidaknya saya punya kesempatan untuk kembali mengunjungi tempat kamu berada.
Saya tak perlu sentuh wajahmu, bukan karena saya kolot dan masih berpegang pada kalimat "Bukan muhrim." namun bagi saya, bawakanmu sebungkus minuman hangat lalu melihat senyum merekahmu itu saja sudah jauh lebih bermakna dan berwarna.
Saya tidak perlu berpuisi juga, kan? Atau membiarkan kerumunan lalu lalang ini menyaksikan ritual kali ini?
Sungguh tidak. Saya masih tetap memilih untuk membiarkan kisah kita disimpan rapi oleh sang malam.

Sekarang tidurlah. Saya harus pergi lagi.
Berdoalah pada Tuhan dan malaikatnya.
Berdoalah agar mereka tak lupa menyisihkan waktu untuk mengurusi segala macam ragam rasa gundah kita.
Post a Comment