10.09.2013

Senja Hari Selasa




Saya sedang bersama senja.
Senja yang serupa namun berbeda sejak berpuluh-puluh bulan lalu.
Ketika pertama kali saya jatuh hati kepada kamu di hari Selasa.

Senja bukan saksi pertemuan pertama itu.
Namun senja sepertinya bisa jadi sebuah analogi yang pas;
Saya yang selalu ada pada setiap penghujung harimu tanpa kamu sadari kehadirannya.
Seperti senja.

Mungkin kamu heran, sejak kapan wujud saya hadir.
Tidak pernah ada pesan masuk dari saya di dalam ponselmu.
Tidak pula pada hari dimana kamu pantas mendapatkan itu.
Ketika ulang tahunmu, misalnya.
Mungkin karena saya bukan hujan yang selalu bicara setiap kali muncul.
Saya senja.
Tugas saya hanya diam dan memerhatikan kamu tertawa bersama duniamu, dengan setia.

Senja ini sebuah saksi bisu.
Saksi bisu dari aksi bisu saya terhadapmu.
Saksi bisu dari semua rasa yang ternyata masih sama sejak berpuluh-puluh bulan lalu, sejak Selasa itu.
Bahkan sekarang rasa ini telah tumbuh menjadi jauh lebih besar.
Saya hanya lebih handal menyembunyikannya.

Senja menyimpan seribu rindu.
Rindu tatap hangat dan sapa riang milik kamu yang sekarang membuat semuanya terasa pilu.
Senja menyimpan sejuta tanya;
Apa eksistensi saya pernah berkelebat sedikit saja, mungkin hanya sepersekian detik saja,
di dalam kepala dan otakmu bersama sistem kerjanya?

Senja tahu semua diam dalam kesendirian yang saya miliki.
Senja pun tahu bahwa saya tidak sendiri.
Saya bersama kamu,
Bayangan semu yang hidup nyata dalam pikiran saya.
Kamu, seseorang yang selalu saya harapkan untuk ada, setiap harinya.




Senja Selasa, 17 September 2013
Post a Comment