12.07.2013

Project ANN




ANN
Orang bilang, true love doesn’t come easy. You gotta meet the wrong person until you finally find the right one. I think I kinda agree with that. Tidak hanya dalam hal percintaan, namun keinginan-keinginan lain dalam hidup ini,  tidak akan mudah untuk didapatkan. Tapi sepertinya kali ini hal yang menimpaku agak keterlaluan. Keterlaluan karena aku harus merelakan lelaki idamanku lepas begitu saja dan menjalin hubungan dengan orang lain. Parahnya, kekasihku saat ini adalah sahabat lelaki idamanku. Complicated, right? Aku kadang bingung dengan diriku sendiri. Aku tidak tahu mengapa aku berani mengambil keputusan seperti ini, menerima seseorang yang sebenarnya tidak aku inginkan. Inna bilang, lebih baik dicintai daripada mencintai. Maybe she’s right. Dan kalimat itu bisa kujadikan alasan atas tindakanku memilih Dira yang jelas-jelas terlihat mencintaiku ketimbang Allan. Or maybe, I’m just out of my mind and I was making a big wrong decision for chosing Dira over Allan. You gotta meet the wrong person until you finally find the right one. I don’t even know which one is the rigth person for me: my boyfriend or the man I love. Yang pasti, tidak enak rasanya ketika kita harus mesra dengan orang yang tidak betul-betul ada di dalam hati kita di depan seseorang yang sudah lama kita impikan. It does really hurt like hell.


ALLAN
Bagi gue, tidak masalah kalau Ann menolak cinta gue dan kemudian menjadi pacar siapa saja, karena gue yakin apapun yang Ann pilih pasti yang terbaik untuk dia. She’s a smart girl and she won’t do things without thinking about it first. Tapi ini Dira. Ann jadian dengan Dira. Seseorang yang sudah bertahun-tahun gue anggap sebagai sahabat, bahkan saudara. Betapa hancurnya hati gue melihat Ann dan Dira mesra di depan gue setiap kali ada acara kumpul-kumpul bareng. Tapi gue sendiri juga tidak yakin apa Ann juga punya perasaan yang sama dengan gue. Gue pun tidak berhak men-judge hubungan dia dengan Dira, sekalipun gue tahu bahwa Dira itu playboy. And I really doubt that he’s good enough for her. Maybe it’s my fault for not showing her that I love her enough and not really fighting for her. Beda dengan Dira yang jago sekali menarik hati perempuan, I don't really know what to do if it's about someone I love. Or maybe it’s just Dira who is so fortunate. That lucky bastard! But wait, what if they really love each other? Shit!


DIRA
Gue punya julukan baru dari orang-orang di sekitar gue: playboy insyaf. Gimana nggak, gue yang selama ini selalu gonta-ganti pacar sambil nggak berhenti-berhenti selingkuh, pasang tiga cewek sekaligus, dan nggak pernah pacaran lebih dari dua bulan, sekarang bisa setia di satu orang. Semua teman-teman gue sampai shock karena gue bisa taubat begini. Jangan kira gue nggak punya alasan melakukan tindakan-tindakan bajingan seperti yang gue sebutkan tadi. Gue jadi begitu karena gue pernah dikecewakan seorang cewek yang gue anggap paling spesial dulu ketika SMA. Alasan klise seorang playboy? I know, right? Sejak itu gue nggak pernah serius pacaran. Sampai akhirnya gue ketemu seorang cewek spesial nan cantik dan baik hati: Ann. Cocok banget dia sama gue, anak band ganteng ini. Ann yang berhasil bikin gue nggak lari kemana-mana bahkan di saat gue sudah enam bulan lebih pacaran dengan dia. Ann yang bisa bikin gue nggak peduli dengan cewek-cewek cantik yang makin hari makin kesetanan mengejar cinta gue. Ann yang gue rasa nggak perlu tahu apa-apa soal masa lalu gue.
Post a Comment