2.04.2015

Sang Petualang

"Pada akhirnya, orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa mendoakan. Mereka cuma bisa mendoakan, setelah capek berharap, pengharapan yang ada dari dulu, yang tumbuh dari mulai kecil sekali, hingga makin lama makin besar, lalu semakin lama semakin jauh.

Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima. Orang yang jatuh cinta diam-diam paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah merelakan.

Orang yang jatuh cinta diam-diam hanya bisa seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian."


― Raditya Dika, Marmut Merah Jambu




Kepada kamu, sang petualang..


Bagaimana kabarmu? Ini sudah bulan ke 42 sejak pertama kali kita bertemu. Mengapa saya tidak mengatakannya sebagai berkenalan? Karena secara teknis kita memang tidak berkenalan waktu itu. Kita berkenalan satu atau dua hari setelahnya melalui sosial media Twitter, kemudian saya menginvite pin BBM milikmu, lalu kita berbincag sampai sekitar pukul 2 dini hari. Namun saya ragu kamu masih mengingat kejadian itu. Kamu sempat berkelakar bahwa ketika bertemu pertama kali di ruang dosen itu, saya sedang melobby dosen. Well, the fact is I was talking about my personal problem with my ex to the closest lecturer that I concern like a father. Tapi saya rasa, kamu juga tidak peduli dengan fakta penting itu. Mengapa saya bilang fakta penting? Karena saya yang waktu itu sedang galau (kata anak muda jaman sekarang) seketika merasa semua kesedihan itu luntur. Seperti ombak yang menyapu habis rumah pasir di pantai, semua rasa dingin yang semula menyergap saya sekejap sirna, dan saya tak lagi peduli dengan kenyataan bahwa di sudut mata ini masih ada sisa-sisa bekas air mata.

Kamu mungkin akan heran jika membaca surat ini sekarang (sejujurnya saya berharap kamu tidak dan tidak akan pernah menemukan surat ini), apa yang telah kamu lakukan sehingga saya sampai bisa berbicara seperti itu tentang pertemuan pertama kita? Tidak ada. Kamu tidak pernah melakukan apa-apa. Saya hanya kagum melihat sosok kamu yang terasa begitu hangat, penampilan sederhanamu, rambut sedikit gondrong dan acak-acakan, kemeja flannel lusuh, sepatu keds kusam, tidak ada yang sepertinya istimewa darimu. Tapi kenyataannya, saya malah jatuh hati dengan segala kesederhanaanmu. Lately I know what you're doing for a living, how you try so hard to achieve all of those goals of yours, it makes me like you even more. It feels like you inspire me to achieve my dreams and try harder. Jangan tertawakan saya kali ini, karena saya rasa saya bukan perempuan pertama yang merasakan hal itu terhadap kamu. Saya sedang tidak melebih-lebihkan dan mendramatisir keadaan, but it is what it is.

Ngomong-ngomong, apa kamu ingat ketika kita mulai lumayan sering bertukar pesan dan cerita? (Saya agak ragu dalam menggunakan kata sering, saya takut kita tidak sepemikiran dan kamu tidak terima.) Kamu ingat ketika saya bilang bahwa sepatu kita ada yang sama dan kamu mengiyakan? Kamu ingat ketika kamu agak lama membalas pesan saya dan kamu (terlihat) merasa bersalah dan mengirimkan foto kartu berobat nenekmu dan menjelaskannya bahwa itu adalah alasannya? Kamu ingat ketika kamu memperlihatkan foto-foto hasil jepretanmu selama backpacking kemana-mana yang akan kamu kirim ke majalah dan katamu saya adalah orang pertama yang melihatnya? Saya seringkali bertanya, apa semua kenangan yang saya sebutkan tadi nyata? Apa kamu juga memiliki kenangan itu dalam kepalamu? Apakah kamu masih mengingatnya? Apa kamu setuju-setuju saja jika waktu itu saya merasa bahwa kita dekat? Apa kamu bahkan juga merasa bahwa kita dekat? Terlalu banyak pertanyaan yang saya ingin ajukan padamu, tapi saya memutuskan untuk diam dan berpura-pura lupa.

Saya sesungguhnya tidak terlalu ingat detil-detil kecil lain pada saat-saat itu. Saya hanya ingat saya memutuskan untuk berhenti menghubungi kamu ketika saya akhirnya tahu bahwa kamu memiliki seseorang yang sangat kamu cintai dalam beberapa tahun terakhir. Saya sadari posisi saya, saya bukan siapa-siapa dan tidak akan pernah jadi siapa-siapa. Saya bukan apa-apa di hidupmu dibanding perempuan beruntung itu. Saya sedikit pun tidak pernah menyesal pernah mengenal kamu, pernah menyukaimu, dan masih menaruh hati kepada kamu. Saya rasa tidak ada yang salah dengan itu. Saya harap kamu sependapat dengan saya kali ini.

Ini memang terkesan lucu. Saya hanya mengenalmu lewat pesan-pesan yang kamu kirimkan, saya hanya mengenal kamu lewat tulisan-tulisan yang kamu buat di dunia maya, saya hanya mengenal kamu lewat foto-foto yang lagi-lagi kamu unggah di dunia maya. Apa kamu semaya itu? Apa bayanganmu sesemu ini? Lagi-lagi terlalu banyak yang ingin saya tanyakan tapi saya lebih memilih untuk diam.

Waktu itu minggu ke-3 bulan Agustus di tahun 2011. Saya belum genap 19 tahun, dan saya akan menginjak 23 tahun November nanti. Cukup lama, hampir 4 tahun. Selama itu pula saya berdiam diri memendam semuanya. Yang tahu hanya saya, Tuhan, dan satu atau dua orang teman dekat saya. You're too far from my reach, I keep telling myself that over and over again.  And I found that I'm falling for you all over again. Saya sudah pernah didekati dan mendekati belasan pria setelah pertemuan pertama itu. Namun, selalu ada sisi kecil dalam diri saya yang selalu menyimpan perasaan terhadap kamu, yang meskipun kecil namun terkadang cukup mengganggu. Saya menyerahkan hati dan perhatian kepada seorang petualang seperti kamu, terjebak bersama kenangan-kenangan tak seberapa yang tidak ada arti dan nilainya itu, bersama khayalan-khayalan tak bermakna tanpa tujuan. Saya yang mempunyai angan tentang kamu yang sedang sibuk menjelajahi negeri tanpa tahu bahwa kamu sedang mengantongi sebuah hati. Bagaimana mungkin saya akan terus menunggu kamu pulang ketika saya tahu bahwa saya bukanlah rumahmu? Saya memang tidak salah karena telah menaruh hati padamu, namun saya mulai berpikir mungkin saya telah jatuh pada hati yang salah.

Wahai pria petualang, saya suka bagaimana cara kamu bercerita tentang gunung-gunung yang telah kamu daki, tentang laut-laut yang telah kamu arungi, tentang bukit-bukit terjal yang telah kamu lalui. Saya selalu suka bagaimana kamu mengekspresikan sebegitu besarnya cintamu pada bangsa ini melalui tulisan-tulisan dan foto-fotomu. Saya selalu suka itu. Saya tidak yakin kamu pernah atau akan pernah membaca setidaknya satu saja karya milik saya, namun saya selalu suka karya-karyamu. Kamu, tanpa sadar, telah membuat saya, bahkam ribuan orang di luar sana, menjadi seseorang yang dapat lebih menghargai dan mencintai negeri ini, dan akan terus lebih mencintai lagi.

Jika pada suatu kesempatan kamu membaca ini, dan kamu tahu bahwa yang sedang saya bicarakan ini adalah kamu, I want you to keep it to yourself and pretend. Saya ingin kamu berpura-pura bahwa kamu tidak pernah membaca ini. Biarkan saya menikmati perasaan ini sendirian, menjalani semuanya seperti biasanya. Saya dengan hidup saya, dan kamu dengan hidupmu. Kita hanya dua orang yang pernah bertemu dan mengenal dalam waktu beberapa bulan. Tidak dan tidak akan menjadi lebih dari itu. Berjanjilah untuk tidak akan pernah membahas ini di kemudian hari. Saya tidak memmintamu lebih. Hanya itu saja.


Dari saya,
yang jatuh cinta diam-diam.
Post a Comment