12.21.2015

Vernachlässigung

Aku ingat ketika kala itu,
kita duduk termangu menghadap dunia fana,
di balik tirai-tirai tak kasat mata di pinggir kota,
yang melindungi kita dari segala yang membutakan,
dan yang menenggelamkan jiwa dalam abu-abu semesta.

Ketika kedua pasang mata kita bertemu,
dan bibir berucap lirih,
ada nanar yang samar karena telah lelah didera oleh lara.
Namun tak kita ucapkan tangisan-tangisan sukma itu,
karena bagimu diam itu lebih indah,
daripada harus mengisi dunia dengan cerita penuh derita.
Dan katamu, hidup terlalu megah untuk dinodai dengan rasa gelisah.

Kita duduk termangu menghadap dunia fana,
berdua, bersama,
entah untuk sekadar mengamati,
menikmati,
atau malah menangisi benda-benda mati yang tak sanggup kita miliki,
benda-benda tanpa nyawa yang senantiasa mereka puja.
Atau kita memilih berdua karena sama-sama ingin lupa,
pada seisi dunia semu yang mematikan kalbu?


Desember 2015
Post a Comment