1.03.2016

Memasang Bola Lampu


Kau berjinjit-jinjit mengangkat tanganmu menuju ke atas kepalamu, sulit. Menggapai-gapai apa yang ingin dicapai.

Kau memandang ke atas, tempat yang tak begitu tinggi. Pikirmu itu dapat kau capai dengan mudah menggunakan alat bantu apa saja, tangga bambu, tangga besi, kursi, enggrang jika keseimbanganmu bagus, atau bantuan dari seseorang yang lebih tinggi, jika mereka bersedia.

Kau mencari-cari segala bentuk bantuan yang kusebutkan tadi, namun tidak menemukan apapun. Kau kira kau memiliki segala alat bantu itu, nyatanya tidak. Kau harus mencarinya sendiri, segala bantuan tadi. Tidak seperti acara adu ketangkasan di televisi yang semua alat bantunya disuguhi dan kau hanya tinggal pilih.

Kau sendiri, berdiri menatap ke atas, tempat yang tidak begitu tinggi, di ruangan kosong berukuran sekian kali sekian meter yang tak kau tahu pasti. Kau sendirian, kepindahanmu ke tempat baru, lalu kau ingin memasang bola lampu. Tubuhmu rendah, tidak tinggi, dan kau sendiri, apa yang bisa kau lakukan dengan itu?

Kau berjinjit-jinjit mengangkat tanganmu menuju ke atas kepalamu, menggapai-gapai yang ingin kau capai, itu bahkan terasa sangat sulit, walau hanya untuk sekadar memasang bola lampu. Kau terus menggapai ruang hampa, hanya udara diam yang kau sentuh dengan kedua tanganmu. Kau lelah, susah-susah berpeluh basah, usahamu sia-sia.

Seperti hidup dan mimpi.

Kau bersama segala sanak saudara, sahabat, dan kerabat. Kau dan uangmu di dalam tabungan yang tak seberapa itu, serta benda elektronik canggih yang kau beli ketika rilis edisi terbaru. Namun kau sendiri. Kau sendiri.

Manusia-manusia penuh mimpi tidak akan merasa cukup bahagia dengan benda-benda mati jika mimpi dan hasratnya yang tinggi tak ia miliki. Kongkow-kongkow tiap malam Minggu, haha-hihi minum Martini, tidak berarti, ketika jam 3 pagi kau pulang ke sebuah apartemen mewah yang masih kau cicil setiap tahunnya, dan kau menyadari mimpi-mimpi yang ada dalam angan belum berada di genggaman.

Benda-benda mati hanya pelengkap kebahagiaan, mimpi-mimpi itulah yang membuatmu tetap hidup dan bertahan. Bersama puluhan teman-teman yang hanya ada ketika bersenang-senang, terbahak-bahak sampai beruarai air mata sejenak, lalu kau pulang dan lagi-lagi kau sendiri. Kau sendiri.

Jika tak ada bantuan dan dengan segala dayamu yang pas-pasan, serta kau tak pandai-pandai menggunakan kesempatan dan segala kemewahan, kau hanya akan berjinjit-jinjit tak berguna, menggapai-gapai yang ingin kau capai; mimpi, namun yang kau gapai hanya ruang hampa, udara diam yang menyentuh kedua tanganmu, dan hatimu yang gelisah.



3 Januari 2016
di sebuah ruang kosong yang gelap
Post a Comment