1.30.2016

Pagi Para Perantau


Seperti biasa, ada suara kokok ayam jantan entah milik siapa yang setiap harinya melagu di pagimu yang lembab, mengisi fajar-fajar penuh warna oranye muda.

Adalah engkau yang berdesakan di jalanan demi sampai ke tempat tujuan yang kau sebut kantor sambil terkantuk-kantuk sisa bekerja semalam suntuk. Hatimu mengutuk bos terkutuk. Kau merasa pekerjaan paling berat setiap pagi adalah membuka mata karena cangkir-cangkir kopi hitam tadi malam hanya memberi khasiat beberapa jam semata.

Kau tidak tidur lagi kali ini, demi membahagiakan pekerjaan sang bos dengan harapan naik gaji. Ketika orang-orang pulas tidur untuk bermimpi, kau malah bermimpi untuk tidur.

Pagimu yang dingin dihadiahi asap-asap dari pengendara lain yang kau anggap kurang beradap. Dadamu pengap.

Decitan ban kendaraan mengisi pagi-pagimu yang beku, sebeku hatimu mendengar keinginan sang ibu yang memintamu pulang, namun kau tak punya cukup uang.

Teriakan kenek angkutan umum terdengar sayup-sayup di daun telingamu yang layu. Tidak ada perempuan dalam hidupmu, untuk tidur pun kau sering tak punya banyak waktu.


January 6th, 2016
Post a Comment