4.07.2012

Sabtu Malam dan Rumput Gajah



Sabtu malam bulan April, aku terududuk di sebelah pria yang sedang merebahkan tubuhnya di atas padang rumput di depan rumah kontrakanku yang sudah kutempati dua tahun terakhir. Aku diam. Iapun begitu. Kami membiarkan suara angin menggesek rumput gajah basah yang tumbuh tak teratur ini. Cuaca malam ini menembus melewati badanku yang kurus, menusuk tulang. Tak lupa kukenakan jaketku.

"Dingin.." ujarnya tiba-tiba, sambil terus menelusuri rumput dengan punggung tangannya.

Siapa suruh pakai kaos oblong begitu malam-malam begini? Salah sendiri! Tudingku dalam hati. Aku tetap diam, memeluk lututku, sambil menatap langit. Yang hitam, yang begitu gelap, tanpa bintang, bulanpun entah sembunyi dimana. Langit seolah menunjukkan padaku bahwa ia hanya sedang ingin menjadi langit yang menutupi dunia saja malam ini, yang tak perlu diacuhkan. Ia seperti berkata bahwa ia sedang tak ingin menjadi pusat perhatian karena cahaya bulannya yang kinclong dan bintangnya yang berkelip.

"Aku kangen kita." lelaki seumuranku yang tengah berbaring di atas rumput di sebelahku ini lagi-lagi bergumam, ngomong sendiri. Ia menghela napas. Aku ikut pula menghela napas.

Kali ini kualihkan pandanganku dari langit. Kutatap ia, dalam. Ia yang juga sedari tadi sibuk menelusuri setiap senti langit seolah sedang mencari sesuatu. Ia tiba-tiba memejamkan matanya, lalu bergeming. 3 menit setelahnya, dibukanya kembali matanya. "Aku kangen kita.." diulangnya lagi kalimat yang membuatku sedikit tercengang itu. Kali ini lebih pelan, sambil menatapku dalam. Bola matanya yang hitam pekat seolah menarik jiwaku keluar. Aku lemas. Kualihkan pandanganku darinya, lagi-lagi langit yang menjadi alasanku untuk tidak menatapnya berlama-lama.

Bukan apa-apa. Bukan berarti langit itu lebih tampan darinya. Langit malam memang membuatku tenang, tapi percayalah, lelaki yang pernah kusebut kekasih dan belahan jiwa ini masih tetap lebih indah bagiku. Dan akan selalu indah, bagiku. Tapi untuk saat ini bukan soal indah atau tidaknya, ini soal apakah aku akan kuat untuk duduk di sini tanpa ada sedikitpun rasa geram ditatap sedalam itu oleh seseorang yang selalu kuanggap spesial sejak 3 tahun terakhir ini. Jadi malam ini akan lebih aman jika aku terus memandangi saja langit kosong ini.

Setahun lalu, pria yang barusan bilang rindu ini memutuskan hubungan kami. Ia bilang ia tidak mau terus-terusan membuatku kecewa, terus-terusan meluncurkan bergalon-galon air mata untuknya. Ia bilang aku ini cemburuan, emosional. Aku memang begitu, dengan segala pemujanya yang berkeliaran di sana sini. Tapi sebenarnya bukan itulah alasanku marah. Cinta kadang aneh, aku sayang padanya namun sering kali aku kesal melihatnya. Meskipun begitu, toh aku menerima keputusannya, aku tidak keberatan meski aku tahu aku akan lebih terluka ketika ia memutuskan untuk melepaskanku dan membiarkanku merelakannya. Aku menerima keputusannya semudah aku menerimanya dulu, semudah aku menyerahkan hatiku untuk dimilikinya, semudah ia mendapatkan senyumku tanpa tanpa perlu ia bersusah payah untuk melakukan itu.

"Kangen? Siapa suruh kamu putusin aku, tinggalin aku?" jawabku akhirnya, setelah beberapa menit kami pecah dengan keheningan.

Aku tak menatapnya saat itu, aku masih sibuk dengan langitku, namun aku tahu ia terperangah pada rebah badannya. Tak mungkin ia terkejut hanya karena kalimat tanya seperti itu? Toh ia memang meninggalkanku, bukan?

"Aku ga pernah tinggalin kamu." balasnya tetap tenang, pelan, dalam, dan penuh kasih sayang, setidaknya aku mendengarnya begitu. "Aku selalu di sini. Kamu ga sadar? Kamu lupa? Atau pura-pura lupa?" iya melanjutkan, bertutur lembut namun terkesan tidak terima dengan pernyataanku sebelumnya. Ia benar, ia memang selalu di sini. Ia selalu mendatangiku tiap Sabtu malam untuk menikmati rumput gajah yang tidak cantik dan banyak semutnya ini. Ia selalu berbaring di sini, dengan posisi yang sama, dengan punggung tangan yang selalu meraba sang rumput dengan penuh hasrat. Akupun selalu menatap langit yang sama dengan orang yang sama dalam 3 tahun terakhir ini. Tak pernah ada orang lain yang melihat langit dan mengeluh dingin selain ia, tak pernah ada pula rumput yang ia tiduri selain rumput di depan rumah kontrakan ini.

Kali ini aku menoleh padanya, setelah berkali-kali membenarkan bahwa ia memang tak pernah pergi dari sini. Ia sedang mengamatiku. Kubalas tatapan matanya. Seumur-umur aku tak pernah tahan jika harus balik menatapnya. Dan benar, 5 detik kemudian aku menoleh, lagi-lagi langit menjadi sasaranku. Kurasakan ia bangkit dari tidurnya. Benar, aku merasakannya. Tak ada lagi bahasa manusia normal yang mampu kudengar dan kuartikan semenjak aku mulai mengenal dan merasa memilikinya. Aku hanya bisa merasa, merasa hal yang kadang tak seharusnya kurasakan. Aku bahkan mulai tahu jika ia sudah mulai berjalan keranjingan kesana-kemari dengan teman-teman wanitanya. Aku rasa aku mulai pintar dalam hal indera keenam. Atau malah aku mulai kena penyakit gangguan jiwa?

"Tapi kamu selalu sibuk dengan teman tapi mesra kamu." akhirnya aku menyanggah kalimatnya, tak mau kalah. Aku terlalu egois untuk mengakui bahwa ia benar, aku terlalu angkuh untuk terlihat sedih di depannya apalagi jika aku harus mengakui bahwa aku masih saja membiarkan butir air mengalir dari pelupuk mataku hanya karena aku lagi-lagi tahu bahwa ada sikapnya yang membuat hatiku merasa luka lagi. Aku terlalu tinggi hati untuk membiarkannya tahu bahwa hatiku masih berdarah karenanya.

"Mereka temanku. Kamu tahu aku selalu sayang kamu. Kamu tahu aku ga pernah ada rasa apa-apa sama mereka." jawabnya, dengan sangat lembut, setengah berbisik. Suaranya terdengar begitu merdu, membuaiku, mengusik naluriku, mengoyak pertahananku untuk tidak menolehnya dan menangis di depannya saat itu juga.

Aku merasakan mataku mulai panas. Tidak, aku tidak boleh menangis di depannya. Cukup sekali itu saja aku menangis di hadapannya, membiarkan jari jemarinya yang panjang mengusap air mataku, membiarkan lengannya mendekapku, membiarkan diriku rebah lemah di atas dadanya yang bidang. Aku sekarang menatap lurus ke depan, tak berkedip. Aku tahu ia sedang menatap wajah bagian kananku sekarang. "Sayang kamu bilang? Terus kenapa kita begini? Alasan kamu ga masuk akal." jawabku datar sambil terus menatap ke depan.

Tatapanku kosong, ingatanku melayang. Begitu banyak yang telah kami lalui selama 3 tahun terakhir. Aku tidak akan lupa bagaimana ia bisa menjadi begitu penting dulu, bagaimana sekecil apapun sikapnya bisa menjadi begitu perlu bagiku untuk kutafsirkan ke dalam banyak versi persepsi. Bagaimana sikapnya yang seolah tak peduli selalu bisa menarik perhatianku, dan semua sikapnya yang penuh kejutan yang selalu bisa membuatku menarik bibir untuk sekadar tersenyum atau bahkan tertawa terbahak sampai mataku berair. Tapi bukan bagian itu yang penting. Atau malah sudah kuanggap tak penting setelah seenaknya saja ia memutuskan hubungan kami, namun tak pernah benar-benar pergi, tetap di sini, berbaring menatap langit Sabtu malam namun juga hobi sekali berbagi tawa dengan gadis lain yang sudah tahu tidak kusukai. Yang penting adalah betapa berkeloknya pikiranku untuk dapat menyimpulkan bahwa ialah lelaki terjahat, raja tega, setidaknya bagiku. Aku tak pernah memintanya untuk tetap di sini menemani setiap Sabtu malamku, aku tak pernah ingin ia tetap mengucapkan selamat malam setiap kali aku bilang bahwa aku mengantuk. Aku ingin dia pergi, aku ingin dia membiarkanku menikmati langit malam sendiri dan tak ada lagi ia yang berbaring di sebelahku lalu berkata bahwa ia kedinginan. Aku ingin ia pergi saja, terbang bersama para pemujanya di luar sana, bersama gadis-gadis yang sudah pasti jauh lebih cantik baginya, bersama gadis-gadis yang senantiasa bernyanyi untuknya, bersama mereka yang memberikannya hadiah ketika ia berulang tahun. Aku ingin dia benar-benar meninggalkanku. Tapi sepertinya ia terlalu enggan untuk membiarkanku menangisinya sendirian, sepertinya ia tidak mau membiarkan aku melahap langit malam ini sendiri, tanpa ada suara punggung tangannya yang meraba rumput basah ini. Ia tidak pernah benar-benar pergi, ia tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Dan itulah yang justru membuatku semakin dirundung kesedihan.

Aku mulai merasakan pipiku dialiri air yang terasa panas, air itu meluncur mulus keluar dari mata kiriku, terus mengalir sampai akhirnya bermuara di ujung bibirku. Asin. Aku selalu ingat kalimat dari sebuah buku yang pernah kubaca; jika ketika menangis mata kirimu yang mengeluarkan air mata lebih dulu maka itu adalah air mata kesedihan, begitu pula sebaliknya. Aku rasa itu benar. Ia mulai bingung melihat gadis yang katanya selalu ia sayangi ini menangis di depannya. Ia mengangkat kedua telapak tangannya, menempelkannya dipipiku, dipaksanya aku menoleh ke arahnya dengan lembut, direngkuhnya wajahku. Ia menatapku dalam, matanya yang hitam pekat menyiratkan pedih, kesakitan yang teramat sangat. Aku mulai sesegukan. Ia masih saja menyapu air mataku yang tak berhenti mengalir, bergantian meluncur dari mata kiri dan kananku.

"Aku mencintaimu. Selalu mencintaimu. Aku akan selalu jadi langit yang kamu tatap setiap Sabtu malam. Aku akan tetap menjadi rumput tempat kamu duduk dan berbaring. Aku akan tetap jadi rumah tempat kamu kembali pulang." bisiknya halus, merdu, ia seperti bernyanyi padahal hanya bergumam. Suaranya menenangkanku. Aku lunglai. Aku kini membiarkannya membuka lebar lengannya lalu mendekapku. Kurebahkan tubuhku pada dadanya yang bidang. Aku menangis di atas kaos oblongnya yang terasa dingin. Ia tak henti-hentinya membelai rambutku, mengecup puncak kepalaku, mengusap pipiku. Aku menyerah. Aku menyerah untuk tidak menunjukkan betapa aku juga merindukannya selama ini, betapa aku selalu ingin tahu bahwa ia hanya milikku, bukan yang lain, bukan para perempuan gila di luar sana.

Beberapa menit kemudian, aku kembali mencapai diriku. Aku tiba-tiba teringat sebuah kalimat lain yang temanku tuliskan di situs jejaring sosialnya. "It's okay if you lose someone you love, but don't you ever lose yourself." Aku berkata pada diriku sendiri, masih dalam dekapan hangatnya, di bawah langit yang selalu kami lihat dan sekarang langit ini lah yang memperhatikan kamu: aku tidak boleh kehilangan diriku sendiri. Ujarku mantap pada diriku. Aku kemudian mengusap air mataku sendiri, kulepas pelukannya dari tangannya yang berkulit kuning langsat. Aku sudah duduk kembali dengan pertahananku sendiri. Aku tak lagi lemas. Aku tak akan lagi membiarkan ia meruntuhkan pertahananku. Ia menatapku dalam. Wajah indahnya mendekatiku, jarak wajah kami hanya beberapa senti saat ini. Aku dapat merasakan napasnya, aku dapat mencium aroma pasta giginya. Hidungku malah sudah menyentuh hidung mancungnya sekarang. Aku memejamkan mata, lalu kurasakan ada sesuatu yang lembut, hangat dan basah menyentuh bibirku. Ia menciumku. Aku tidak ingat kapan terakhir kali bibir tipisnya yang tak pernah malas menyunggingkan senyum itu menyentuh bibirku. Aku hampir kembali kehilangan diriku, beberapa detik kemudian aku menarik wajahku. Ia masih menatapku, kali ini lebih nanar seolah-olah memintaku untuk percaya bahwa ia memang benar-benar masih mencintaiku dan akan tetap begitu.

Aku bangkit berdiri. Malam ini sudah hampir pukul 12 malam. "Aku capek. Pulanglah. Jangan pernah datang lagi." ujarku datar namun lantang, lalu berjalan dengan langkah cepat ke dalam rumah lalu mengunci pintu.

Kulihat dari balik jendela rumah, ia masih terduduk di atas rumput gajah basah, saksi bisu kami dalam 2 tahun terakhir. Langit seolah menatapnya. Ia menunduk lemah. Sesuatu mengalir jatuh dari dagunya. Ia bangkit berdiri, mengambil motor bebeknya lalu pergi berlalu. Aku terduduk di atas lantai ruang tamu rumahku. Aku kembali menangis. Apa hal wajar yang bisa 2 orang yang mengaku masih saling mencintai lakukan selain seharusnya kembali hidup berdua seperti dulu? Aku sudah cukup lelah untuk terus melihatnya setiap minggu namun ia tak bisa dikatakan sebagai milikku lagi.

Mungkin memang beginilah seharusnya. Ia tak usah datang lagi, menatap langit berdua denganku setiap Sabtu malam, duduk dan berbaring di atas rumput gajah yang basah. Ia tak perlu lagi berkata bahwa ia kedinginan. Mungkin ia benar, ia masih mencintaiku. Selalu mencintaiku. Ia akan selalu jadi langit yang aku tatap setiap Sabtu malam. Ia akan tetap menjadi rumput tempat aku duduk dan berbaring. Ia akan tetap jadi rumah tempat aku kembali pulang. Tapi setidaknya sekarang aku tahu, dan perasaanku mengerti, kami memang saling mencintai tapi aku tidak harus memilikinya dan memecah sunyi berjam-jam semauku. Aku tahu bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dipaksakan di dunia ini. Karena meskipun orang bingung mengapa kami tidak saling bersama lagi, kami tahu, hati kami tahu bahwa beginilah yang terbaik untuk kami. Aku dengan kesendirianku, dengan rumput gajah basah di halaman depan rumahku, dengan langit malamku, dan ia dengan hingar bingarnya kehidupannya.

Kami lebih baik tidak bersatu.




Ketika bosan melanda.
Sabtu malam, 7 April 2012
Post a Comment