12.24.2015

Empat Dinding Abu-abu



Hujan mengguyur tanah kering di bawah khatulistiwa ini bagai peristiwa yang tak diduga-duga. Sudah lama aku tidak melihat hujan jatuh begitu keras, sekeras aku jatuh pada sesosok lelaki angkuh yang sekarang menjelma ingatan keruh.

Delapan tahun aku menempati ruangan dengan empat dinding berwarna abu-abu, saksi segala macam kisah, yang membahagiakan dan yang pernah membuatku hampir menyerah, baik berwarna maupun kelabu. Kalau mereka dapat bicara, kurasa mereka muak menyaksikan malam ini aku dapat tertawa gila lalu besoknya aku tenggelam dalam air mata lara.

Empat dinding abu-abu menemani kesendirianku yang tak kunjung berlalu. Aku selalu suka sendiri. Sebetapapun perhatian dan tampannya pacarku suatu kala, aku tetap punya banyak waktu untuk bercengkrama bersama diri tercinta. 

Empat dinding abu-abu menyaksikan betapa aku suka bercinta dengan segala yang kucinta. Segala jenis film, buku, puisi, musik, camilan enak yang tidak bergizi, petikan gitar fales, dan suara nyanyianku sendiri. Kekasih? Aku tidak akan bercinta dengan orang-orang yang memberikan cinta yang dangkal. Itu sama saja dengan menghina diri sendiri.

Mungkin aku akan berbesar hati mengucapkan maaf kepada mereka yang pernah mencintaiku dan merasa telah memberikan sepenuh hatinya tanpa ragu. Tapi aku masih tetap yakin kalau cinta mereka itu dangkal. Atau kadang aku yang kelewat pakai akal.

Bagiku, segala macam hubungan bisa diukur dengan logika. Bahkan hubunganmu dengan Tuhanmu. Kuyakini bahwa agamaku adalah agama paling logis. Yang kutahu beberapa ilmuwan negara-negara Eropa telah melakukan penelitian dan lalu berpendapat seperti demikian. Jadi jika kukatakan cinta mereka dangkal, itu karena aku percaya pada akalku yang mampu menakar.

Empat dinding abu-abu ini beda cerita. Ia tak perlu logika ketika melihatku terbahak karena orang yang jauh di seberang pulau berkelakar, kemudian esoknya meratapi orang yang sama karena mendadak memutuskan untuk pergi. Menyedihkan sekali, namun itulah bagian dari hidup yang mendewasakan. Tidak ada yang perlu diratapi.

Empat dinding abu-abu tidak perlu rasa sabar dan empati yang besar dan menenangkan. Tanpa itu semua dan dibiarkan sendiri pun aku akan sadar bahwa aku seringkali salah bersandar. Empat dinding abu-abu membiarkanku belajar pada hal-hal yang salah dan benar.

Kepada mereka, dinding-dinding kokoh yang malam ini melindungiku dari hujan yang tajam, aku berterimakasih karena telah senantiasa memberi kasih tanpa pamrih. Dan lagi ritual siang dan malam setiap harinya, menatapku tidur bagai batu dengan liur di bantal-bantal bau yang lama-lama membeku.


23 Desember 2015
Post a Comment