January 31, 2015

Shit

You're that star that is so far
As you start fading away,
I'm here watching saying goodbye
Walking to you
Feels like walking to the sun
I'm melted by the heat that it gives me
But still, I do it all over again, happily

I think, I really like the sensation
When your warmth cover up my whole body
Just like candles burned up by the flames,
I burn to pieces until I'm whole again in a new shape
So abstract, but so real
This is real
This feeling is real
Real shit that hurts me real deep
Too real that when I dream it's getting worse too
Worse that I wanna cut my heart in two

Shit!
No more poem for you,
No more room too


Well, I lied.
Good night, bastard.

January 30, 2015

Surat Pertama



Selamat pagi, kamu yang jarang bangun pagi. Selamat membaca surat perdana saya setelah setengah tahun saya absen menulis surat cinta. Sedang apa kamu di sana? Mendengkur? Bergelung di balik selimut yang menghangatkan dan mengamankan? Dan bermimpi naik unicorn bersama peri, sampai ke pelangi, dan bertemu hujan yang membeku? Sepertinya menyenangkan jika saya berada di sana denganmu sekarang.

Selamat pagi, kamu yang belakangan selalu bangun pagi. Bagaimana keadaanmu di Pare? Semoga baik. Tak ada hal lain yang dapat saya lakukan selain mendoakan kesehatanmu. Bagaimana kursusmu di Kampung Inggris? Kapan kamu akan pergi ke Kelud dan Bromo? Saya tidak sabar menunggu foto-foto indahmu yang akan kamu bagi. Oh ya, sudah berapa lama kita tidak bertemu? Seminggu? Dua minggu? Tiga minggu? Saya sedikit lupa.  Yang jelas, saya masih ingat ketika pagi itu menemuimu di bandara. Waktu itu kamu memakai kemeja kecoklatan yang lengannya digulung sampai siku. Saya suka melihatnya.

Selamat pagi, kamu yang mungkin waktunya sedang tersita. Maksud saya menulis surat ini adalah saya ingin minta izin bahwa dalam 30 hari ke depan saya akan menulis surat-surat lainnya setiap hari, tentang apa saja. Saya harap saya bisa sekonsisten itu. Kamu tahu sendiri bagaimana kecintaan saya terhadap menulis, bukan? Mungkin kamu juga sudah bosan mendengar saya mengatakan bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi penulis terkenal. Tapi saya tidak begitu peduli apakah kamu bosan bahkan muak dengan celotehan tentang mimpi saya yang bukan hanya ingin menjadi penulis, melainkan juga mimpi-mimpi lainnya yang tak habis-habis. Saya ingin berterimakasih karena kamu telah bersedia mendengarkan ocehan saya tentang itu semua, tentang hal-hal yang tidak penting lainnya, tentang hal-hal yang seringkali tidak masuk akal, dalam waktu hampir tiga tahun terakhir ini. Saya ingin berterimakasih karena selama ini kamu telah bersedia meyakinkan saya bahwa mimpi-mimpi saya tidak pernah terlalu tinggi. Tidak seperti yang dikatakan oleh orang-orang di luar sana itu, kamu selalu menguatkan saya untuk terus berusaha meraih apa yang saya mau. Bahkan kamu rela mengorbankan perasaanmu demi keegoisan saya dalam mewujudkan ambisi-ambisi gila ini. Dimana lagi saya bisa mencari orang sepertimu?

Selamat pagi, kamu yang selalu setia. Kali ini saya ingin minta maaf, bahwa setelah ini, surat-surat yang saya tulis bukan hanya tentang saya dan kamu, bukan hanya tentang kita. Bukan hanya tentang bagaimana pertemuan pertama malu-malu kita dulu terasa begitu menyenangkan. Bukan hanya tentang bagaimana kamu selalu berusaha menjadi seseorang yang selalu mengerti, mendengarkan, dan menerima semua sisi baik dan buruk dalam diri saya. Surat-surat saya setelah ini mungkin akan melupakan cerita-cerita kita yang mengesankan itu untuk sementara waktu. Surat-surat saya setelah ini akan berkisah tentang hal lain, tentang diri saya di sisi yang lain—yang saya yakin kamu sudah tahu dan kamu mengerti dengan teramat-sangat baik, bahkan tentang hidup saya dalam dimensi lain, tentang hidup saya bersama orang-orang lain yang entah siapa, tentang kisah lain, tentang cinta yang lain, tentang pria lain. Tentang bagaimana saya bertemu dengan orang-orang sebelum kamu, ataupun setelah kamu. Tentang mereka yang sempat bersama saya, atau yang tidak sempat sekalipun. Kamu tidak perlu bertanya siapa mereka, apakah mereka lebih buruk atau lebih baik darimu, dan siapakah yang lebih penting diantara kamu dan mereka. Kamu hanya perlu—lagi-lagi saya minta maaf—mengerti. Saya harap kamu tidak keberatan dengan itu.

Selamat pagi, kamu yang saya cinta. Hampir tiga tahun sudah saya mengenal kamu, segala baik dan burukmu, segala macam keegoisan kita berdua yang sempat membuat kita jauh dan sempat memutuskan untuk lebih memilih orang lain, segala macam suka dan duka yang kita bagi dan membuat kita bisa merasa sedemikian dalam memiliki dan mencintai, selama itu pula saya yang perasaannya seringkali berubah arah, dapat selalu kamu taklukkan dengan kesabaranmu yang mendalam, dan rasa mengertimu yang begitu besar. Terlepas dari segala kekuranganmu sebagai manusia biasa, saya takjub akan kelebihan-kelebihanmu yang tidak saya miliki itu. Saya selalu berkata bahwa saya tidak pernah bisa menjanjikanmu apapun, begitu juga kamu. Tidak ada yang bisa kita janjikan untuk membuat satu sama lainnya saling bertahan. Saya bukan perempuan yang mudah menunjukkan rasa cinta dan peduli –dan lagi-lagi kamu memaklumi. Saya bukan perempuan yang dapat berjanji akan bersamamu sampai ajal menjemput seperti perempuan-perempuan lainnya yang begitu memujamu. Saya perempuan yang kamu bilang telah mengubah hidupmu dan perempuan yang saya bilang acap kali mengecewakan. Saya tidak tahu, kamu tidak tahu, kita tidak tahu, sampai kapan saya, kamu, kita, akan bertahan pada keadaan ini. Entah esok, lusa, bulan depan, atau tahun depan, kita bisa saja saling meninggalkan dan melupakan satu sama lain. Yang saya tahu adalah saya beruntung bisa mengenal kamu, saya beruntung bisa bersama kamu, saya beruntung pernah kehilangan kamu yang pada akhirnya membuat saya sadar bahwa saya lagi-lagi sangat beruntung karena pernah memiliki kamu dan dimiliki olehmu.

Selamat pagi, kamu yang mungkin sekarang sedang sakit hati, atau lagi-lagi malah mengerti dan memaklumi. Saya harap kamu tidak keberatan dengan surat-surat saya setelah ini. Kamu harus tahu, saya punya alasan mengapa kamu menjadi orang pertama yang saya kirimi surat dan mengapa saya merasa perlu untuk meminta izin padamu. Saya punya alasan mengapa bukan mereka saja yang saya kirimi surat pertama kali dan saya meminta izin pada mereka untuk menulis surat tentangmu di hari-hari berikutnya. Tidak perlu saya jelaskan, bukan? Saya yakin kamu pasti sudah mengerti. Silakan nikmati surat-surat saya yang lainnya nanti. Jika kamu berkenan, saya pasti akan senang.




Selamat menikmati hari-hari sibuk di Kediri. Saya selalu menunggu kepulanganmu.
-Saya

January 28, 2015

Buta Arah

Lihatlah, kemana makhluk itu akan pergi jika mata angin saja ia tak tahu, jika kompas saja ia tak punya. Bukankah hidup harus punya arah jelas untuk dituju? Bukankah buta arah akan berujung pada menyerah? Kurasa itu tidak sepenuhnya benar. Kau tak perlu lihai baca kompas agar tahu arah mata angin untuk wujudkan mimpimu, karena harapan dan pertolongan datang dari segala penjuru. Kau hanya perlu percaya itu.

Ia Menyulam Malam dengan Air Mata

Ia menyulam malam dengan air mata.
Bersama Tuhan yang nyata mengasihinya.
Bersama cinta bunda yang melingkupinya.
Bersama malaikat tak kasat mata yang menjaganya.

Ia menyulam malam dengan air mata.
Bersama tangan-tangan kokoh sang ayah mematri jendela.
Bersama tangis bayi lelaki dalam kereta beroda.
Bersama setan penuh hasutan iblis menggoda.

Ia menyulam malam dengan air mata.
Bersama rintik hujan gerimis penuh daya magis.
Bersama lampu temaram seakan malam.
Bersama bulan yang enggan bertatapan.

Ia menyulam malam dengan air mata.
Bersama lelaki yang telah pergi.
Bersama cinta yang telah mati.
Bersama doa yang tak henti mengiringi.

Selasa, 27 Januari 2015

July 12, 2014

Surat Cinta Pagi Buta

image

Kepada kamu yang sedang pulas tertidur,


Saya bingung harus memulai tulisan ini dengan apa. Apakah harus dengan salam, atau selamat… selamat pagi atau selamat malam? Entahlah, pukul 3.15 dini hari begini, saya malah sibuk kebingungan. Sangat tidak lucu memang, saya harus melantur seperti orang kehilangan akal sehat. Bukannya tidur, malah menulis surat yang isinya kemana-mana. Surat cinta pula. Duh, saya agak geli menyebut ini surat cinta. Mungkin kamu juga akan bergidik ketika membacanya nanti. Tapi kalau bukan surat cinta, apa lagi namanya? Surat Tanah? Surat Peringatan? Maaf, ini semakin tidak lucu.

Saya bukan ingin sok romantis, tiba-tiba memberimu surat seperti ini. Hanya saja, saya tidak tahu harus bagaimana baiknya memberimu ucapan perpisahan. Saya tahu, kepergian saya siang nanti bukan sesuatu yang mendadak. Saya, bahkan kamu, sejak berpuluh-puluh minggu lalu, sudah tahu bahwa hari ini akan tiba. Namun tetap saja, mengucapkan selamat tinggal adalah salah satu hal tersulit yang harus seseorang lakukan dalam hidupnya. Atau mungkin, saya bukannya tidak tahu bagaimana baiknya mengucapkan selamat tinggal, saya hanya tidak mau, tidak rela harus meninggalkan kamu. Ya, mungkin sesederhana itu. Dan saya lagi-lagi bingung.

Disela-sela menulis ini, saya menyempatkan memandang wajahmu yang sedikit ketutupan selimut itu sesering mungkin. Wajah tenang yang selalu terlihat mengantuk. Ah, saya selalu suka melihat kamu menguap. Saya suka sekali memandang mata hitam kamu yang selalu tampak sayu. Saya pasti akan sangat merindukan itu. Saya pasti akan sangat rindu kamu. Sekarang saya merasa sedikit menyesal karena pukul 9 malam tadi harus memintamu ke sini. Saya memang senang bukan kepalang karena mengabiskan malam terakhir di kota ini bersama kamu, namun saya yakin, akan semakin sulit memberimu ucapan selamat tinggal.

Jam di ruangan ini sudah menunjukkan pukul 3.40. Astaga, sudah selama itu, namun baru ini yang saya hasilkan. Saya rasa saya terlau banyak memandangimu. Tapi tidak apa lah. Saya yakin kamu tidak akan keberatan.

Ketika kamu membaca surat kacangan ini nanti, saya tidak ingin kamu sedih karena kepergian saya. Tapi tunggu, saya rasa saya yang akan merasa sedih karena kehilangan sosok menyebalkan sepertimu di hari-hari saya nanti. Sekali lagi, saya akan sangat merindukan kamu. Saya harap kamu juga demikian. Setidaknya  kamu akan kehilangan ocehan saya yang katamu selalu buat kepalamu serasa mau pecah.

Saya mengantuk. Sepertinya saya harus tidur. Saya tidak akan bilang ini terakhir kalinya saya bisa bersama kamu, namun saya juga tidak berani menjamin akan ada hari seperti ini lagi nanti. Jadi biarkan saya menghabiskan sisa beberapa jam di kota ini di sebelahmu, di dalam hangat selimut yang sama. Saya yakin kamu juga tidak akan keberatan.

Baiklah, sampai di sini saja surat cinta pagi buta ini untuk kamu.

Selamat tidur yang nyenyak.



- Saya

December 08, 2013

Incognito: Kekasih Frank dan Sihir Hujan #1


“Oh, God, it’s wonderful
to get out of the bed
and drink too much coffee
and smoke too many cigarettes
and love you so much.”

Bandung, 22.7.11 

Aku membaca tulisan tangan di halaman pertama buku yang baru saja kutemukan di atas salah satu meja di perpustakaan tempat aku biasa menghabiskan waktu selama berjam-jam. Yang barusan kalian lihat itu, itu merupakan bait terakhir puisi Steps milik Frank O’Hara, penulis dan penyair asal Amerika. Bagaimana aku tahu? Selain karena kalimat itu memang terkenal, juga karena aku penggemar berat tulisan-tulisan O’Hara. Bukan berarti aku homoseksual karena suka pria, hal seperti itu sama sekali tidak berlaku dalam dunia seni. Aku suka tulisan-tulisan O’Hara karena dia memang keren. Kalian harus baca karya-karyanya. Aku yakin kalian akan suka. Tapi, ya, itu kembali lagi kepada minat kalian terhadap karya sastra.

Omong-omong, buku yang kudapati ini berjudul The Perks of Being A Wallflower karya Stephen Chbosky. Buku ini terbit pada 1999. Aku tahu karena aku sedang membolak-balik isinya sekarang. Aku sudah menonton versi film yang dibintangi oleh Logan Lerman, namun belum pernah membaca bukunya. The Perks of Being A Wallflower bercerita tentang seorang anak laki-laki introvert bernama Charlie. Charlie pernah hampir bunuh diri karena depresi. Setelah itu ia sempat menjalani terapi rehabilitasi. Hidup Charlie kemudian berubah ketika ia bertemu dengan sepasang kakak-beradik tiri, Sam dan Patrick, di sekolah barunya. Seiring dengan berjalannya waktu, mereka semakin dekat, dan Charlie akhirnya jatuh hati pada Sam—yang diperankan oleh Emma Watson. Ada beberapa kalimat terkenal dalam buku ini, salah satu yang aku suka adalah “Even if we don’t have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there. We can still do things. And we can try to feel okay about them.” Jika kau ingin tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, silakan buka internetmu atau pergi lah ke toko buku atau perpustakaan.

Aku tidak yakin ini buku asli, aku hanya yakin umurnya bersama si pemilik belum terlalu lama, karena kertasnya belum jelek-jelek amat. Mungkin ini buku yang diberikan seseorang kepada seseorang lainnya pada tahun 2011 di Bandung. Sebagai hadiah, mungkin. Perkiraanku dari seorang pria kepada wanita. Itu semua aku lihat dari puisi yang tertulis di halaman ini. Aku tidak tahu mengapa aku harus menganalisa buku yang entah milik siapa ini sampai sebegitu detilnya. Satu hal lagi yang aku tahu, buku ini bukan milik perpustakaan di sini, karena tidak ada cap perpustakaan atau tanda-tanda lain yang menyatakan ini milik perpustakaan.

Di luar sedang gerimis. Aku tidak memilih buku apa-apa hari ini. Aku bukan sedang tidak berhasrat untuk membaca. Aku hanya sedang ingin melukis. Aku mengeluarkan sketch book berukuran sedang yang sudah setengah terisi beserta pensil warna, cat air, kuas, dan alat melukis lainnya. Aku tidak jago-jago amat dalam melukis. Aku hanya hobi. Orang-orang bilang lukisan-lukisanku bagus. Biasanya aku hanya tersenyum sedikit kemudian berterimakasih menanggapinya, sambil mengaminkannya di dalam hati. Teman-temanku yang lain juga selalu menyarankan aku untuk menjadikan ini sebagai profesi. Seperti membuka jasa lukis misalnya. Aku bukan tidak setuju dan tidak menghargai saran mereka. Ada benarnya juga, pikirku, tapi aku melukis karena aku mencintai seni lukis, bukan karena aku ingin menjadi kaya dengan melukis. Atau mungkin belum. Kalau aku melukis untuk uang, mungkin aku sudah berhenti melukis sejak bertahun-tahun lalu. Kalaupun aku ingin dapat uang dari melukis, paling tidak aku akan mengumpulkan dulu lukisan-lukisanku selama satu dekade kemudian membuat pameran, kalau-kalau nanti akan ada yang berminat membelinya. Itupun kalau aku punya modal untuk buat pameran. Jadi, aku lagi-lagi hanya tersenyum sedikit dan berterimakasih kepada teman-temanku atas saran mereka.

Aku melihat sekeliling, sore ini perpustakaan tidak terlalu ramai. Perpustakaan pada hari kerja memang tergolong sepi. Para pekerja yang tidak punya waktu kosong, jangankan hari kerja, akhir pekan saja mereka tidak akan ke sini. Ingin santai di rumah bersama keluarga, sahabat, atau pacar, katanya. Tidak seperti aku, pengangguran yang cuma bisa membaca seharian tanpa menghasilkan apa-apa. Bukan berarti perpustakaan hanya untuk orang-orang tidak berguna sepertiku. Tapi aku, untuk itulah aku ke sini. Aku tidak punya banyak kegiatan, jadi kupikir, setidaknya aku harus melakukan hal-hal yang sedikit banyak bermanfaat untukku. Membaca berjam-jam salah satunya. Sekalipun aku tidak dibayar untuk membaca dan melukis di sini, setidaknya aku bisa dapat ilmu.

BUK!

Ada sesuatu mengenai punggungku. Rasanya tidak sakit, namun tetap saja aku jengkel. Mengapa harus ada orang yang melempariku di tengah-tengah renungan ini? Aku mengalihkan pandanganku dari sketch book, kemudian berbalik. Aku mencari-cari kalau-kalau si pelaku masih ada di sekitarku, terlihat sedang lari tunggang langgang karena ketakutan. Tapi aku tidak menemukan apa-apa, hanya secarik kertas di lantai. Mungkin itu benda yang mengenai punggungku tadi.

After the first glass of vodka
you can accept just about anything
of life even your own mysteriousness
you think it is nice that a box
of matches is purple and brown and is called
La Petite and comes from Sweden
for they are words that you know and that
is all you know words not their feelings
or what they mean and you write because
you know them not to because you understand them

because you don’t you are stupid and lazy

and will never be great but you do

what you know because what else is there?”

-R-

Puisi ini rasanya tidak asing, aku rasa ini puisi milik Frank O’Hara, tapi aku pun tidak begitu yakin. Jadi aku memilih untuk membuka ponselku dan membuka catatan-catatanku. Aku membuka beberapa puisi, sampai akhirnya menemukan yang sama. Nah, kan! Ini As Planned, salah satu karya O’Hara. Lalu apa ini R? Inisial orang yang melempar kertas ini? Atau siapa? Sok misterius betul orang ini. Aku pun membandingkan tulisan tangannya dengan tulisan yang ada pada buku The Perks of Being A Wallflower. Berbeda. Aku kemudian merapikan kertas yang sudah tak beraturan bentuknya ini, berniat menyimpannya. Lumayan, tulisan tangannya bagus.

Setelah memasukannya ke dalam note yang berisi banyak kertas-kertas penting dan tidak penting, aku menyadari bahwa gerimis di luar sana telah berganti menjadi hujan. Aku cepat-cepat membereskan semua barang-barangku yang berserakan di meja, sketch book, pensil warna, dan barang-barang lain yang entah apa, menjejalkan semuanya secara paksa ke dalam ransel usang coklat milikku, termasuk The Perks of Being A Wallflower yang kutemukan ini.

Omong-omong, aku buru-buru begini karena aku bekerja sebagai barista di salah satu tempat minum kopi favorit di kota ini, mulai pukul 6 sore sampai 10 malam setiap harinya. Sudah hampir tiga tahun aku bekerja di sana. Awalnya aku iseng-iseng melamar ketika itu. Alasanku menjadi barista karena selain iseng, juga karena aku suka kopi. Oke, itu alasan klise lainnya. Ya sudahlah, tidak semua hal yang kau lakukan dalam hidup ini harus selalu punya alasan.

Aku tidak ingin terlambat masuk kerja karena terjebak hujan, jadi aku bangun dari dudukku kemudian berbalik untuk berjalan ke arah pintu keluar.

BUK!

Aku menabrak sesuatu—maksudku seseorang, di depanku yang entah siapa, kemudian jatuh terduduk. Pantatku sakit. Di depanku ada perempuan berkacamata yang sedang membereskan bukunya yang berceceran. Banyak sekali bukunya. Kutaksir ada sekitar enam sampai delapan buku. Aku tidak dapat melihat satupun judul bukunya karena tangan-tangannya yang cepat sekali memungutinya. Aku mencoba melihat paras gadis ini, tapi tidak bisa karena poninya jatuh menutupi sebagian wajahnya. Aku kemudian berinisiatif untuk menolong. Kuulurkan tanganku, kemudian ditepisnya. Ia lalu menatapku dengan penuh emosi sambil berusaha berdiri. Aku bisa menatap wajahnya dengan jelas sekarang. Cantik juga gadis ini, pikirku. Sebagai lelaki normal, aku sedikit deg-degan dan kikuk berhadapan dengan wanita, apalagi yang cantik begini. Hanya Pika, sepupuku, dan ibuku, wanita yang tidak pernah membuatku kikuk. Bukan berarti Pika dan ibuku tidak cantik, ya.

Gadis ini memiliki kulit berwarna kuning langsat. Tubuhnya langsing, lumayan tinggi, sejajar dengan hidungku. Rambutnya bergelombang sebahu, berwarna hitam pekat, dengan poni yang disisir asal ke samping. Alis matanya rapi dan lumayan tebal, matanya lebar, bulu matanya lentik, hidungnya tidak terlalu mancung, bibirnya yang mungil sedang manyun sekarang. Wajahnya Indonesia sekali. Aku tidak tahu dari mana aku bisa dapat ide wajahnya Indonesia sekali. Aku juga tidak terlalu paham bagaimana wajah wanita yang Indonesia sekali itu. Apakah alisnya harus bak semut beriring, bibirnya harus semerah delima, atau dagunya harus seperti lebah bergantung. Ah, sudahlah. Tidak usah dibahas.

“Jangan seenaknya membalik badan sambil berlari di tempat umum.” katanya datar dan dingin, matanya menatapku sangat tajam.

Aku tak bisa menjawab apa-apa. Aku bingung, entah aku atau dia yang sebenarnya salah. Namun sebagai pria, aku lebih baik mengalah pada wanita yang sedang emosi. “Maaf.” kataku akhirnya.

Ia mengabaikan permintaan maafku, kemudian berlalu begitu saja. Aku masih kaget dengan kejadian singkat barusan. Mungkin aku memang bersalah, atau mungkin hanya dia saja yang sedang sensitif. Namanya juga perempuan, barangkali ia sedang datang bulan. Meskipun gadis ini cantik, aku memilih untuk tidak memedulikannya. Kulihat ke luar ruangan, hujan turun semakin deras. Aku lebih baik bergegas. Sambil mengenakan mantel hujanku, aku mempercepat langkah berjalan menuju pintu keluar, kemudian menerobos hujan sore itu.


***


Perpustakaan ramai siang ini. Mungkin karena sekarang Sabtu, orang-orang tak berteman sepertiku akan semakin ramai datang ke sini, menghabiskan waktu berjam-jam sambil membaca berpuluh-puluh buku, sendirian. Berteman dengan benda mati itu sama sekali tidak menyedihkan, malah menyenangkan dan menguntungkan. Kau tidak perlu membayarinya makan, kau tidak repot mengatur waktu untuk bertemu, kau tidak akan kesal ketika acaramu batal karena benda mati tak akan membatalkan janji. Buku terlebih-lebih. Selain tiga hal menyenangkan yang aku sebutkan tadi, buku juga dengan senang hati memberimu segala-gala informasi tanpa perlu kau susah payah membalasnya untuk berterimakasih. Pepatah-pepatah klise mengenai keistimewaan buku boleh saja kau cemooh, tapi cobalah pandang secara objektif, itu semua benar. Buku itu gudang ilmu. Buku adalah jendela dunia. Sebaik-baiknya teman adalah buku. Nah, benarkan, berteman dengan benda mati apalagi buku itu menguntungkan dan menyenangkan. Aku tidak mengerti orang-orang yang tidak suka membaca. Apalagi ketika kau tidak punya banyak uang untuk keliling dunia dan melihat banyak hal dan kau pun tidak suka membaca buku, itu baru menyedihkan.

Aku membolak-balik kertas dengan puisi Frank O’Hara yang kudapat dua hari lalu. Aku masih penasaran siapa pelaku yang melemparku dengan ini. R. Mungkin Regina? Atau Rani? Atau, Riana? Duh, kenapa harus nama perempuan semua! Ya, ngeri saja jika aku harus membayangkan pria yang mengirimiku puisi seperti ini. Aku bergidik membayangkan.

Kalau dua hari lalu hujan deras, siang ini matahari terik sekali di luar. Untung saja ruangan ini berAC, kalau tidak, mungkin aku sudah mandi keringat sekarang. Bosan memikirkan siapa pelempar punggunggku tempo hari, aku memutuskan untuk melanjutkan lukisanku. Ini lukisan yang aku buat dua hari lalu. Sebuah pohon berukuran sangat besar, batangnya hanya bisa kau peluk bersama tiga orang lain, daunnya lebar-lebar, berwarna hijau segar, akarnya sebesar lengan muncul di sana sini di muka tanah. Aku tidak tahu apakah pohon seperti ini memang ada di dunia atau hanya hidup dalam imajinasiku saja. Pohon ini sebenarnya tidak ada istimewa-istimewanya. Aku kini menambahkan seorang gadis kecil sedang duduk memakan roti di bawah daunnya yang rindang. Gadis itu mengenakan rok terusan selutut berwarna kuning keemasan, rambut keriting berwarna coklat mengilapnya mencuat dari balik  topi bundar putih berpita yang sedang ia kenakan. Kubuat matanya lebar dengan bola mata berwarna biru terang, serta bibir kecil berisi berwarna oranye. Itu sudah cukup. Aku tidak perlu memberitahumu lebih lanjut tentang lukisanku. Itu sama sekali tidak penting.

Ketika sedang asik menuangkan hasil khayalanku pada sketch book, aku masih dapat melihat ada seseorang duduk di depanku. Sepertinya wanita. Aku mengalihkan pandangan. Ternyata benar. Seorang wanita sedang duduk memunggungiku. Rambutnya bergelombang sebahu, mengenakan jaket besar berwarna hijau tua. Tubuhnya sepertinya lumayan tinggi, dan langsing. Ia sedang menunduk, aku rasa ia sedang menulis. Aku membuka halaman berikutnya di sketch book milikku, kemudian mulai menggambar gadis itu. Aku tidak tahu mengapa aku bisa tertarik pada punggung seseorang seperti ini. Selama lima menit aku tenggelam dalam sketsa punggungnya.

“Hey, mengapa kau menggambarku!?”

Aku mendongak. Ternyata gadis yang duduk di depanku tadi sedang berdiri melongok ke dalam lukisanku. Aku gelagapan. Buru-buru kututup sketch book-ku. Aku tidak tahu entah sudah berapa lama ia berdiri di sana. Bagaimana bisa aku tidak menyadarinya. Bodoh!

“Mengapa kau menggambarku begitu?!” tanyanya lagi dengan intonasi lebih tinggi, wajahnya memerah karena menahan marah.

Aku masih terdiam dan bingung harus menjawab apa. Aku harus menjawab apa? “Sosokmu terlihat menarik dari belakang.” jawabku sekenanya. Ya, Tuhan, jawaban macam apa itu?

“Apapun alasanmu, aku tidak suka. Berikan kertas itu padaku.” sekarang nada bicaranya datar dan dingin sekali.

Merasa tidak punya pilihan lain, aku langsung merobek bagian tempat aku melukisnya tadi. Kemudian menyerahkan ragu-ragu. Gadis itu langsung menyambarnya. Wajahnya masih terlihat penuh amarah. Aku tidak tahu seorang wanita bisa sebegini murkanya.

“Maaf.” kataku akhirnya. 

“Sudah dua kali kau minta maaf padaku. Jangan sampai ada yang ketiga kalinya.” ucapnya lalu pergi dan menghilang dari hadapanku.


Masih dalam keadaan terkejut, aku mencerna kalimat gadis itu. Dua kali? Apa maksudnya dua kali? Aku terus mengingat-ngingat kalau-kalau aku per... Ah, aku ingat! Dia gadis yang kemarin kutabrak di sini dan bukunya berceceran semua! Duh, bisa-bisanya aku melupakan gadis secantik itu. Kali ini aku merasa aku tidak setuju dengan kalimat berangnya tadi. Aku kira harus ada pertemuan setelahnya. Jika itu harus menjadi permintaan maafku yang ketiga, aku rasa aku rela.


***


“Kau tahu, aku baru saja selesai membaca novel ini. Dan ini bagus. Kau harus membacanya.” Pika memperlihatkanku sebuah buku berjudul London: Angel milik Windry Ramadhina, malam ini di tempatku bekerja.

Aku mengambil buku itu dari tangan Pika, kemudian membolak-balik isinya. Sekarang sudah pukul 10.15 malam. Jam kerjaku sudah habis sejak lima belas menit yang lalu. Giliran temanku yang menjadi barista sekarang. Sedangkan tempat ini baru akan tutup pukul 2 dini hari. Ini dia, Pika, perempuan yang kusebut-sebut tempo hari. Ia adalah sepupu perempuanku satu-satunya. Karena sepupuku memang hanya ada dua. Sepupuku yang laki-laki adalah adik Pika. Ayahku dan Pika adalah dua orang saudara kandung. Pika sering datang ke sini. Kebetulan ia bekerja sebagai penyanyi band tetap di sebuah restoran tepat di depan tempatku bekerja. Biasanya Pika ke sini bersama teman-teman bandnya yang sudah kukenal dekat, tapi kali ini Pika datang sendirian. Kami biasa mengobrol sampai hampir tengah malam setiap harinya. Aku tidak pernah bosan bertemu dan bercerita tentang apapun dengan gadis ini.

“Apa yang spesial dari novel ini?” tanyaku kemudian.

Pika menyeruput latté yang beberapa menit lalu kubuatkan untuknya. “Novel ini bagus. Ini salah satu dari sembilan judul lainnya dari seri Setiap Tempat Punya Cerita. Sebenarnya banyak yang kisahnya mirip dengan ini, pria yang mengejar cinta seorang gadis. Namun, yang membuatnya istimewa adalah novel ini berlatar di London. Kau tahu, kan, betapa aku sangat menyukai london! Novel ini juga menggunakan karya-karya sastra dan lukisan abad-abad lalu sebagai pelengkap cerita. Kita jadi mendapatkan informasi judul-judul karya seni pada abad pertengahan. Kau pasti akan suka.” Pika menjelaskan padaku dengan lancar. “Oh iya, satu lagi yang aku suka. Di sini, tokoh utama yang bernama Gilang, bertemu dengan malaikat hujan yang dijulukinya Goldilocks. Kau tahu Goldilocks, kan?”

“The Three Bears? Robert Southney?”

“Tepat sekali!” jawab Pika girang.

“Lalu apa hubungannya malaikat hujan dengan Goldilocks?”

“Nah, malaikat ini mirip dengan Goldilocks, kulitnya, rupanya, rambutnya, apapun, mirip dengan Goldilocks.”

“Rambutnya berwarna kuning maksudmu?”

“Iya. Diam dulu. Aku belum selesai.” Pika melotot. Aku terkikik kemudian mengangguk, tanda menyuruhnya untuk melanjutkan. “Malaikat hujan ini hanya muncul ketika hujan. Tentu saja. Ia suka muncul tiba-tiba ketika hujan turun, lalu mengajak Gilang berinteraksi sebentar, kemudian hilang lagi. Begitu terus, hingga membuat Gilang penasaran.” lanjutnya bersemangat.

“Lalu sedang apa Gilang ada di London? Dia orang Indonesia, kan? Dan, mana ada malaikat hujan? Kau ngawur, ya?” cecarku.

“Aduh, kau ini. Dia ke sana untuk mengejar cinta seorang gadis. Sudahlah, kau baca saja sendiri. Aku pinjamkan ini seminggu. Itu sudah cukup lama untuk buku dengan tebal seperti ini. Hanya beberapa ratus halaman. Jangan telat mengembalikannya, atau kau akan kukenakan denda.” kata Pika sok galak.

Aku tergelak melihat tingkahnya. Aku kemudian mengambil buku milik Pika itu dan memasukkannya ke dalam ransel. Omong-omong soal hujan, aku jadi teringat kejadian ketika hujan hari Kamis lalu. Kertas itu masih kusimpan sampai sekarang. Tadinya aku bermaksud menceritakan hal itu pada Pika, tapi aku pikir nanti-nanti sajalah. Toh, Pika akan ke sini lagi besok, besoknya, dan besoknya, seterusnya setiap hari. Jadi kami memutuskan untuk membicarakan hal lain lagi sambil minum kopi, bersama angin malam menusuk tulang, semalam suntuk.


***


Hujan Kamis ini deras sekali. Aku terkurung di perpustakaan. Sekarang sudah pukul 4 sore, aku harus sampai di tempat kerjaku sebelum pukul 6. Aku mulai panik. Tidak, aku becanda. Aku hanya tidak tahu harus apa. Jadi, daripada bingung, aku memutuskan untuk melukis. 

Kali ini aku melukis seekor kucing. Mengapa kucing? Aku pun tak tahu. Lagi-lagi hal yang kita lakukan tidak harus selalu punya alasan. Kucingku jenisnya persia campur anggora. Sangat tidak jelas memang. Warna bulunya kuning keemasan dan hitam. Warna yang kontras. Aku sengaja memberinya warna begini kare...

BUK!

Sesuatu mengenai punggungku. Lagi? Aku buru-buru membalik badan. Kulihat sesosok wanita berlari menghilang di balik tembok sekat pemisah ruangan di perpustakaan ini. Aku langsung mengejar sosok yang kulihat sangat cepat tadi. Aku berlari tak kalah cepat. Ketika aku mencapai tembok tempat sosok perempuan tadi menghilang, aku menemukan pintu menuju halaman belakang perpustakaan. Aku berlari keluar perpustakaan kemudian berhenti karena aku sudah hampir basah kehujanan sekarang. Sambil mulai menggigil kedinginan, aku masih celingukan mencari sosok lincah tadi, namun aku tidak menemukan apa-apa. Sial. Aku kecolongan. Lain kali, aku akan tunggu kau, pelempar punggung.








To be continued...

December 07, 2013

Project ANN




ANN
Orang bilang, true love doesn’t come easy. You gotta meet the wrong person until you finally find the right one. I think I kinda agree with that. Tidak hanya dalam hal percintaan, namun keinginan-keinginan lain dalam hidup ini,  tidak akan mudah untuk didapatkan. Tapi sepertinya kali ini hal yang menimpaku agak keterlaluan. Keterlaluan karena aku harus merelakan lelaki idamanku lepas begitu saja dan menjalin hubungan dengan orang lain. Parahnya, kekasihku saat ini adalah sahabat lelaki idamanku. Complicated, right? Aku kadang bingung dengan diriku sendiri. Aku tidak tahu mengapa aku berani mengambil keputusan seperti ini, menerima seseorang yang sebenarnya tidak aku inginkan. Inna bilang, lebih baik dicintai daripada mencintai. Maybe she’s right. Dan kalimat itu bisa kujadikan alasan atas tindakanku memilih Dira yang jelas-jelas terlihat mencintaiku ketimbang Allan. Or maybe, I’m just out of my mind and I was making a big wrong decision for chosing Dira over Allan. You gotta meet the wrong person until you finally find the right one. I don’t even know which one is the rigth person for me: my boyfriend or the man I love. Yang pasti, tidak enak rasanya ketika kita harus mesra dengan orang yang tidak betul-betul ada di dalam hati kita di depan seseorang yang sudah lama kita impikan. It does really hurt like hell.


ALLAN
Bagi gue, tidak masalah kalau Ann menolak cinta gue dan kemudian menjadi pacar siapa saja, karena gue yakin apapun yang Ann pilih pasti yang terbaik untuk dia. She’s a smart girl and she won’t do things without thinking about it first. Tapi ini Dira. Ann jadian dengan Dira. Seseorang yang sudah bertahun-tahun gue anggap sebagai sahabat, bahkan saudara. Betapa hancurnya hati gue melihat Ann dan Dira mesra di depan gue setiap kali ada acara kumpul-kumpul bareng. Tapi gue sendiri juga tidak yakin apa Ann juga punya perasaan yang sama dengan gue. Gue pun tidak berhak men-judge hubungan dia dengan Dira, sekalipun gue tahu bahwa Dira itu playboy. And I really doubt that he’s good enough for her. Maybe it’s my fault for not showing her that I love her enough and not really fighting for her. Beda dengan Dira yang jago sekali menarik hati perempuan, I don't really know what to do if it's about someone I love. Or maybe it’s just Dira who is so fortunate. That lucky bastard! But wait, what if they really love each other? Shit!


DIRA
Gue punya julukan baru dari orang-orang di sekitar gue: playboy insyaf. Gimana nggak, gue yang selama ini selalu gonta-ganti pacar sambil nggak berhenti-berhenti selingkuh, pasang tiga cewek sekaligus, dan nggak pernah pacaran lebih dari dua bulan, sekarang bisa setia di satu orang. Semua teman-teman gue sampai shock karena gue bisa taubat begini. Jangan kira gue nggak punya alasan melakukan tindakan-tindakan bajingan seperti yang gue sebutkan tadi. Gue jadi begitu karena gue pernah dikecewakan seorang cewek yang gue anggap paling spesial dulu ketika SMA. Alasan klise seorang playboy? I know, right? Sejak itu gue nggak pernah serius pacaran. Sampai akhirnya gue ketemu seorang cewek spesial nan cantik dan baik hati: Ann. Cocok banget dia sama gue, anak band ganteng ini. Ann yang berhasil bikin gue nggak lari kemana-mana bahkan di saat gue sudah enam bulan lebih pacaran dengan dia. Ann yang bisa bikin gue nggak peduli dengan cewek-cewek cantik yang makin hari makin kesetanan mengejar cinta gue. Ann yang gue rasa nggak perlu tahu apa-apa soal masa lalu gue.

October 09, 2013

Senja Selasa




Saya sedang bersama senja.
Senja yang serupa namun berbeda sejak berpuluh-puluh bulan lalu.
Ketika pertama kali saya jatuh hati kepada kamu pada hari Selasa.

Senja bukan saksi pertemuan pertama itu.
Namun senja sepertinya bisa jadi sebuah analogi yang pas;
Saya yang selalu ada pada setiap penghujung harimu tanpa kamu sadari kehadirannya.
Seperti senja.

Mungkin kamu terheran, sejak kapan wujud saya hadir.
Tidak pula pernah ada pesan masuk dari saya di dalam ponselmu.
Tidak juga pada hari dimana kamu pantas mendapatkan itu.
Di hari ulang tahunmu, misalnya.
Karena saya bukan hujan yang selalu bicara setiap kali muncul.
Saya senja.
Tugas saya hanya diam dan memerhatikan kamu tertawa bersama duniamu, dengan setia.

Senja ini sebuah saksi bisu.
Saksi bisu dari aksi bisu saya terhadapmu.
Saksi bisu dari semua rasa yang ternyata masih sama sejak berpuluh-puluh bulan lalu, sejak Selasa itu.
Bahkan mungkin sekarang rasa ini telah tumbuh menjadi jauh lebih besar.
Saya hanya lebih handal menyembunyikannya.

Senja menyimpan seribu rindu.
Rindu tatap hangat dan sapa riang milik kamu yang sekarang membuat semuanya terasa pilu.
Senja menyimpan sejuta tanya;
Apa eksistensi saya pernah berkelebat sedikit saja, mungkin hanya sepersekian detik saja,
di dalam kepala dan otak kamu bersama sistem kerjanya?

Senja tahu semua diam dalam kesendirian yang saya miliki.
Saya rasa senja pun tahu bahwa saya sebenarnya tidak sendiri.
Saya bersama kamu.
Bayangan semu yang hidup nyata dalam pikiran saya.
Seseorang yang selalu saya harapkan untuk ada, setiap harinya.




Senja Selasa, 17 September 2013

September 29, 2013

Bandung 2013

Beberapa minggu lalu, saya akhirnya punya kesempatan jalan-jalan ke luar kota (lagi) setelah sekian lama. Dua jalan-jalan terakhir saya itu tahun 2010, waktu libur panjang UAN SMA. Bareng keluarga besar, sayake Bandung, Anyer, dan Ciater, Jawa Barat. Jalan-jalan terakhir sebelum ini sekitar September 2011, ke Malang, Jawa Timur. Itu juga cuma beberapa hari. Bersyukur banget akhirnya bisa jalan-jalan lagi. Maklum, sejak kuliah emang susah mau kemana-mana. Bukannya sok sibuk, tapi emang kenyataannya (menyedihkan) gitu. Saya sengaja rada ngotot agar libur kali ini bisa jalan-jalan, karena...... setelah liburan ini berakhir, saya akan memasuki semester akhir......... yaudah, demi kebaikan bersama, soal TA itu gak usah dibahas lebih lanjut di sini. Pamali.

Saya berangkat dari Bandara Sultan Syarif Kasim II tanggal 12 September 2013, flight jam 8.30 pagi tujuan Bandung. Sekitar jam 10.15 gitu kita mendarat dengan alus di Bandara Husein Sastranegara. Kita dijemput di airport sama supir yang udah disewa sehari sebelumnya. Berhubung saya bareng beberapa keluarga, jadi barang bawaannya juga rada banyak, akhirnya kita mutusin buat ke penginapan dulu. Saya menginap di Marbella Suites, di sekitaran Dago Pakar. Dago Pakar lumayan jauh juga dari pusat kota Bandung, apalagi kalau jalan kaki... Letaknya emang udah rada ke pinggir, tapi view-nya itu loh, epic. Sengaja juga kali ya dibikin ke pinggiran Bandung, supaya lebih berasa nyaman. Belum lagi di sini cakung banget alias cuaca mendukung.




September 28, 2013

Teman Mendaki

Saya ingin mendaki puncak tertinggi denganmu;
Melewati batu-batu yang berjatuhan pada lereng-lereng curam itu,
berjalan di bawah rindang pohon-pohon hutan tropis tinggi menjulang.
Tersungkur oleh akar-akar tanaman sebesar lengan,
kemudian tiba pada tanah tertinggi berjam-jam kemudian,
disambut keajaiban dunia di atas awan.
Biru horisonnya membentang seluas pandang.
Pastilah khatulistiwa terlihat membentang jika ia kasat mata.
Mari buta berdua karena silau pada sumber yang sama;
satu titik sinar dunia super cerah yang berpendar ke tiap sudut semesta.
Kemudian kita akan bersuka cita memetik Edelweiss untuk cendera mata.
Saya bukan pendaki gunung ulung,
bukan pula petualang alam yang handal.
Namun saya bisa janji,
saya adalah teman mendaki paling amatir yang akan selalu membuat kamu cengar-cengir,
tak peduli seberapa deras peluh menetes di kedua sudut bibir.
Saya ingin mendaki puncak tertinggi dan menetap di sana denganmu selamanya.
Terjaga tiap fajar karena suara ribut burung-burung hutan mengepak kedinginan,
karena kulit perih memerah dikecup semut rangrang,
lalu minum air bening dari muka dedaunan.

September 22, 2013

Setiap Tempat Punya Cerita; London: Angel Review

Aku duduk di tepian plaza, di salah satu kursi beton yang berbaris rapi tidak jauh dari kincir raksasa yang bersinar putih kekuning-kuningan. Tubuhku meringkuk. Dua tanganku terkepal di pangkuan. Jemariku meremuk celana. Aku tengah menunggu dan waktuku kian menipis. Beberapa jam lagi, aku meninggalkan kota ini, tapi gadis yang ingin kutemui tak juga menampakan diri.
Lima hari yang lalu, aku datang dengan semangat luar biasa, dengan gairah mengejar cinta membara seperti api besar yang tengah melahap kayu di dasar perapian. Kini, aku lelah dan kehilangan asa. Kota ini telah mengikis habis harapanku lewat hujan yang turun hampir setiap waktu. Butir-butir air yang tercurah dari langit mencuri mimpi indah dalam benakku sedikit demi sedikit dan yang tersisa kini hanya kenyataan.

Kenyataan pahit.

Ah persetan, gadis itu tidak akan muncul.

Aku mendesah, lalu bangkit berdiri. Sepasang kakiku bergerak setengah hati, menjauh dari tempat pertemuan kami. Tepat ketika aku akan keluar dari plaza, seorang petugas keamanan berseragam biru tua menghampiriku.

"Maaf, Mister. Payungmu tertinggal," katanya. Dia menyodorkan sebuah payung merah yang terlipat rapi.

Aku memandangi benda tersebut dan tersenyum kecut. "Aku tidak membutuhkannya." Kugelengkan kepalaku.

"Tapi hujan baru saja turun."Petugas keamanan itu mengacungkan tangannya ke langit.

Hujan? "Hujan turun?"

Aku buru-buru menengadah, menatap jauh ke atas, ke kumpulan gumpalan kusam yang menutupi matahari. Detik berikutnya, sebutir air mendarat di wajahku, lalu menyusul butir-butir air yang lain dan tidak lama kemudian, seperti apa yang dikatakan oleh petugas keamanan itu, hujan membasahi London sekali lagi.

***




Setiap Tempat Punya Cerita


15 September lalu, saat sedang berada di Bandung, dalam rangka liburan semester genap, saya berkunjung ke salah satu mal yang bisa dibilang sangat digandrungi anak muda. Saya sendiri belum pernah ke sana sebelumnya. Maklum, sejak jadi mahasiswa, saya memang jarang sekali bepergian keluar kota. Ya, saya ke Paris Van Java. Sebuah mal yang cukup terkenal di kota Bandung. Namun kali ini saya tidak akan bercerita tentang bagaimana tempat itu. Melainkan, saya ingin bercerita sedikit tentang buku yang saya beli di Gramedia PVJ: Setiap Tempat Punya Cerita; London: Angel.