4.13.2016

Deret Angka Tanpa Makna?

Hidup seperti matematika, katanya. Hampir semua hal dalam hidup ini berhubungan erat dengan angka. Mulai dari tanggal, bulan, dan tahun lahirmu, usia, tinggi dan berat badanmu, pukul berapa kamu tidur, berapa indeks prestasi komulatif yang kamu dapat di kampus, sampai total gaji yang kamu terima setiap bulannya. Semuanya berhubungan dengan angka. Tanpa angka, akan dengan apa semua hal tadi dijelaskan? Bagaimana caramu membeli sepatu jika tidak ada angka? Haruskah kamu mengukur panjangnya dengan alat lainnya? Tapi lagi-lagi, kamu pun butuh angka untuk melakukan itu.

Belasan deret angka yang ada dalam total rekeningmu di bank mungkin dapat memperlihatkan bahwa kamu adalah seorang pengusaha sukses, kamu mampu membeli rumah di mana pun kamu mau, dengan mobil-mobil harga ratusan juta yang terparkir anggun dalam garasi yang dirancang sedemikian rupa keamanannya.

Tiga digit angka pada indeks prestasi komulatif yang disebut oleh rektormu ketika wisuda, serta berapa lama kamu menghabiskan waktumu dalam sebuah institusi pendidikan tinggi dapat membuat orangtuamu bangga atau malah membuatmu malu, ketika semua wisudawan, wisudawati, dan hadirin tahu bahwa kamu membuang waktumu—mereka bilang lulus kuliah terlalu lama adalah buang-buang waktu— lebih lama dibanding yang lainnya.

Mereka bilang, angka-angka yang muncul pada alat ukur ketika kamu mengukur tinggi dan berat badanmu dapat menentukan betapa dirimu menarik atau tidak. Bahkan, dalam sebuah tes pendidikan atau pekerjaan yang memiliki standarisasi tertentu, angka-angka tadi bisa saja dengan mudah membuatmu diterima atau ditolak.

Sebegitu pentingnya deretan angka dibutuhkan dalam segala hal, namun apakah angka serta-merta dapat menjadi tolak ukur dalam segala hal pula? Saya rasa, kesuksesan, kecantikan, atau apapun hal di dunia ini—yang mayoritasnya menuntutmu untuk memiliki angka tinggi—yang ada dalam hidup manusia, tidak dapat ditakar dengan permainan angka-angka yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Jangan biarkan deret angka tanpa makna itu mendefinisikan siapa, bagaimana, dan seberhasil apa dirimu dalam hidup.

2.04.2016

Senandika


Malam menjadi pucuk-pucuk segala rupa.
Bagi kata-kata mengutuk,
Untuk kepala-kepala yang terantuk,
Dan jiwa-jiwa penuh rasa kantuk.

Kepadanya semua pulang,
Bernaung di bawah tempat usang yang kau sebut rumah.
Dibalik selimut apek yang tak dicuci berminggu-minggu,
Kau mengadu pada sang ibu ketika ibu pertiwi terasa tiri.

Kau memimpikan hujan-hujan,
Penghilang rasa haus dahaga dan gersang.
Dalam pelukan semesta,
Bersama mimpi-mimpi yang hilang,
Ditelan para penguasa jalang.

Bintang-bintang yang kau hitung tiada guna,
Ada ribuan bahkan jutaan,
Lenyap bersama sang gelap.

Kemana, kemana sang bulan pergi?
Oh, rupanya sedang ngopi-ngopi bersama matahari.

Ada gumpalan hitam menuju dimensi lain,
Ternyata itu yang mereka sebut lubang cacing.
Membawa tubuh ringkihmu pergi,
Dari dunia yang timbulkan perih tak terperi.

1.30.2016

Pagi Para Perantau


Seperti biasa, ada suara kokok ayam jantan entah milik siapa yang setiap harinya melagu di pagimu yang lembab, mengisi fajar-fajar penuh warna oranye muda.

Adalah engkau yang berdesakan di jalanan demi sampai ke tempat tujuan yang kau sebut kantor sambil terkantuk-kantuk sisa bekerja semalam suntuk. Hatimu mengutuk bos terkutuk. Kau merasa pekerjaan paling berat setiap pagi adalah membuka mata karena cangkir-cangkir kopi hitam tadi malam hanya memberi khasiat beberapa jam semata.

Kau tidak tidur lagi kali ini, demi membahagiakan pekerjaan sang bos dengan harapan naik gaji. Ketika orang-orang pulas tidur untuk bermimpi, kau malah bermimpi untuk tidur.

Pagimu yang dingin dihadiahi asap-asap dari pengendara lain yang kau anggap kurang beradap. Dadamu pengap.

Decitan ban kendaraan mengisi pagi-pagimu yang beku, sebeku hatimu mendengar keinginan sang ibu yang memintamu pulang, namun kau tak punya cukup uang.

Teriakan kenek angkutan umum terdengar sayup-sayup di daun telingamu yang layu. Tidak ada perempuan dalam hidupmu, untuk tidur pun kau sering tak punya banyak waktu.


January 6th, 2016

1.03.2016

Memasang Bola Lampu


Kau berjinjit-jinjit mengangkat tanganmu menuju ke atas kepalamu, sulit. Menggapai-gapai apa yang ingin dicapai.

Kau memandang ke atas, tempat yang tak begitu tinggi. Pikirmu itu dapat kau capai dengan mudah menggunakan alat bantu apa saja, tangga bambu, tangga besi, kursi, enggrang jika keseimbanganmu bagus, atau bantuan dari seseorang yang lebih tinggi, jika mereka bersedia.

Kau mencari-cari segala bentuk bantuan yang kusebutkan tadi, namun tidak menemukan apapun. Kau kira kau memiliki segala alat bantu itu, nyatanya tidak. Kau harus mencarinya sendiri, segala bantuan tadi. Tidak seperti acara adu ketangkasan di televisi yang semua alat bantunya disuguhi dan kau hanya tinggal pilih.

Kau sendiri, berdiri menatap ke atas, tempat yang tidak begitu tinggi, di ruangan kosong berukuran sekian kali sekian meter yang tak kau tahu pasti. Kau sendirian, kepindahanmu ke tempat baru, lalu kau ingin memasang bola lampu. Tubuhmu rendah, tidak tinggi, dan kau sendiri, apa yang bisa kau lakukan dengan itu?

Kau berjinjit-jinjit mengangkat tanganmu menuju ke atas kepalamu, menggapai-gapai yang ingin kau capai, itu bahkan terasa sangat sulit, walau hanya untuk sekadar memasang bola lampu. Kau terus menggapai ruang hampa, hanya udara diam yang kau sentuh dengan kedua tanganmu. Kau lelah, susah-susah berpeluh basah, usahamu sia-sia.

Seperti hidup dan mimpi.

Kau bersama segala sanak saudara, sahabat, dan kerabat. Kau dan uangmu di dalam tabungan yang tak seberapa itu, serta benda elektronik canggih yang kau beli ketika rilis edisi terbaru. Namun kau sendiri. Kau sendiri.

Manusia-manusia penuh mimpi tidak akan merasa cukup bahagia dengan benda-benda mati jika mimpi dan hasratnya yang tinggi tak ia miliki. Kongkow-kongkow tiap malam Minggu, haha-hihi minum Martini, tidak berarti, ketika jam 3 pagi kau pulang ke sebuah apartemen mewah yang masih kau cicil setiap tahunnya, dan kau menyadari mimpi-mimpi yang ada dalam angan belum berada di genggaman.

Benda-benda mati hanya pelengkap kebahagiaan, mimpi-mimpi itulah yang membuatmu tetap hidup dan bertahan. Bersama puluhan teman-teman yang hanya ada ketika bersenang-senang, terbahak-bahak sampai beruarai air mata sejenak, lalu kau pulang dan lagi-lagi kau sendiri. Kau sendiri.

Jika tak ada bantuan dan dengan segala dayamu yang pas-pasan, serta kau tak pandai-pandai menggunakan kesempatan dan segala kemewahan, kau hanya akan berjinjit-jinjit tak berguna, menggapai-gapai yang ingin kau capai; mimpi, namun yang kau gapai hanya ruang hampa, udara diam yang menyentuh kedua tanganmu, dan hatimu yang gelisah.



3 Januari 2016
di sebuah ruang kosong yang gelap

12.30.2015

Kita Adalah Orang Yang Berjalan Pelan-pelan

Kita adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
berbeda dalam ruang dan waktu,
kau dan dawai-dawai itu,
aku bersama bibirku yang memilih bisu.

Kita adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
kemudian saling menemukan,
lalu ada sukmamu melingkupiku dan ketiadaanku.

Kita adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
kian melambat,
saling melepaskan genggaman yang dulu erat.

Kau dan aku adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
memilih berpisah,
ketika dulu, hulu yang kita sebut tujuan,
tak lagi satu arah.

12.25.2015

Mimpi

Kau terbangun di tengah malam, menangisi mimpi-mimpi menyeramkan.
Benakmu dipenuhi bayangan-bayangan yang memburu.

Orang bilang mimpi adalah bunga tidur,
dan tidak ada yang perlu kau khawatirkan.
Bukankah bunga seharusnya indah?
Namun mengapa yang kau alami malah membuat napasmu terengah.

Sekelebat ingatan menghantui sudut pikiranmu
seakan-akan semua itu nyata padahal tidak.
Mimpi-mimpi buruk di malam-malam sunyi terus mengikuti.
Kau kualahan mengatur napas setelah menyaksikan kejadian mengerikan,
entah itu perampokan, pembunuhan, atau sosok-sosok asing yang menertawakan.

Mimpi tidak dapat menyentuhmu,
apalagi melukaimu.
Namun mimpi dapat mempengaruhi suasana hatimu, seharian,
dan ia dengan mudah menguasaimu.

Jangan biarkan hal-hal mengganggu jadi belenggu.
Apalagi itu hanya mimpi yang tak berarti.

Sekarang ambilah segelas air dan kembali berbaringlah,
kembalilah ke tidurmu.
Jangan lupa baca doa,
agar Tuhan melindungimu dari iblis-iblis pengganggu.

12.24.2015

Empat Dinding Abu-abu



Hujan mengguyur tanah kering di bawah khatulistiwa ini bagai peristiwa yang tak diduga-duga. Sudah lama aku tidak melihat hujan jatuh begitu keras, sekeras aku jatuh pada sesosok lelaki angkuh yang sekarang menjelma ingatan keruh.

Delapan tahun aku menempati ruangan dengan empat dinding berwarna abu-abu, saksi segala macam kisah, yang membahagiakan dan yang pernah membuatku hampir menyerah, baik berwarna maupun kelabu. Kalau mereka dapat bicara, kurasa mereka muak menyaksikan malam ini aku dapat tertawa gila lalu besoknya aku tenggelam dalam air mata lara.

Empat dinding abu-abu menemani kesendirianku yang tak kunjung berlalu. Aku selalu suka sendiri. Sebetapapun perhatian dan tampannya pacarku suatu kala, aku tetap punya banyak waktu untuk bercengkrama bersama diri tercinta. 

Empat dinding abu-abu menyaksikan betapa aku suka bercinta dengan segala yang kucinta. Segala jenis film, buku, puisi, musik, camilan enak yang tidak bergizi, petikan gitar fales, dan suara nyanyianku sendiri. Kekasih? Aku tidak akan bercinta dengan orang-orang yang memberikan cinta yang dangkal. Itu sama saja dengan menghina diri sendiri.

Mungkin aku akan berbesar hati mengucapkan maaf kepada mereka yang pernah mencintaiku dan merasa telah memberikan sepenuh hatinya tanpa ragu. Tapi aku masih tetap yakin kalau cinta mereka itu dangkal. Atau kadang aku yang kelewat pakai akal.

Bagiku, segala macam hubungan bisa diukur dengan logika. Bahkan hubunganmu dengan Tuhanmu. Kuyakini bahwa agamaku adalah agama paling logis. Yang kutahu beberapa ilmuwan negara-negara Eropa telah melakukan penelitian dan lalu berpendapat seperti demikian. Jadi jika kukatakan cinta mereka dangkal, itu karena aku percaya pada akalku yang mampu menakar.

Empat dinding abu-abu ini beda cerita. Ia tak perlu logika ketika melihatku terbahak karena orang yang jauh di seberang pulau berkelakar, kemudian esoknya meratapi orang yang sama karena mendadak memutuskan untuk pergi. Menyedihkan sekali, namun itulah bagian dari hidup yang mendewasakan. Tidak ada yang perlu diratapi.

Empat dinding abu-abu tidak perlu rasa sabar dan empati yang besar dan menenangkan. Tanpa itu semua dan dibiarkan sendiri pun aku akan sadar bahwa aku seringkali salah bersandar. Empat dinding abu-abu membiarkanku belajar pada hal-hal yang salah dan benar.

Kepada mereka, dinding-dinding kokoh yang malam ini melindungiku dari hujan yang tajam, aku berterimakasih karena telah senantiasa memberi kasih tanpa pamrih. Dan lagi ritual siang dan malam setiap harinya, menatapku tidur bagai batu dengan liur di bantal-bantal bau yang lama-lama membeku.


23 Desember 2015