2.04.2016

Senandika


Malam menjadi pucuk-pucuk segala rupa.
Bagi kata-kata mengutuk,
Untuk kepala-kepala yang terantuk,
Dan jiwa-jiwa penuh rasa kantuk.

Kepadanya semua pulang,
Bernaung di bawah tempat usang yang kau sebut rumah.
Dibalik selimut apek yang tak dicuci berminggu-minggu,
Kau mengadu pada sang ibu ketika ibu pertiwi terasa tiri.

Kau memimpikan hujan-hujan,
Penghilang rasa haus dahaga dan gersang.
Dalam pelukan semesta,
Bersama mimpi-mimpi yang hilang,
Ditelan para penguasa jalang.

Bintang-bintang yang kau hitung tiada guna,
Ada ribuan bahkan jutaan,
Lenyap bersama sang gelap.

Kemana, kemana sang bulan pergi?
Oh, rupanya sedang ngopi-ngopi bersama matahari.

Ada gumpalan hitam menuju dimensi lain,
Ternyata itu yang mereka sebut lubang cacing.
Membawa tubuh ringkihmu pergi,
Dari dunia yang timbulkan perih tak terperi.

2.03.2016

Dawn At The Window Seat episode 1



In the book The Perks of Being a Wallflower by Stephen Chbosky, Bill once said to Charlie that we accept the love we think we deserve. The first time I read that sentence was four years ago. Kalimat dari novel fiksi yang rilis pada 1999 itu begitu membekas di dalam kepalaku. Bukan karena apa-apa, hanya saja kurasa kalimat itu memiliki makna yang lumayan dalam. Awalnya aku sempat bertanya-tanya apa makna sebenarnya. Aku bahkan sampai browsing di internet segala untuk mencari tahu. Later when I got the point, I asked again, really? Do we really accept the love we think we deserve? Dari mana kita tahu bahwa kita pantas mendapatkan seseorang dan dicintai oleh orang itu? Dicintai oleh orang yang tidak kita kenal, seseorang yang asing—kecuali kalau kau jatuh cinta pada sahabatmu lalu kalian sangat mendewakan lagu Lucky yang dinyanyikan oleh Jason Mraz dan Colbie Caillat, sorry, but to me that’s so cheesy, dari sisi apa kita dapat menilai bahwa orang yang asing itu pantas untuk kita dan kita pantas dicintai olehnya? Harus berapa lama dan sedalam apakah kita mengenalnya sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa orang itu adalah seseorang yang pantas? Itu semua terjadi empat tahun lalu dan berlangsung selama satu bulan lebih sampai akhirnya lama-lama aku tidak lagi mencari-cari apa makna dari kalimat pendek tersebut. Namun tetap saja, kalimat itu terus terngiang-ngiang di dalam pikiranku. Bahkan sampai hari ini. Ditambah lagi aku menemukan buku ini dari tumpukan buku-bukuku yang berantakan. Aku menemukannya tadi malam ketika sedang merapikan rak bukuku. Aku jadi mulai memikirkannya lagi.

Tentu saja hal pertama yang harus kita lakukan untuk mengetahui apakah kita pantas untuk orang lain dan orang lain pantas untuk kita adalah dengan mengenali diri sendiri. Sejujurnya aku masih belum paham dari konteks apa kita harus menilai diri sendiri. Maksudku, aku paham dan mengerti aku ini orang seperti apa, sifatku, baik burukku, kekurangan dan kelebihanku, I know all of them. I know myself. At least I think I do. Namun apakah kepantasan dalam mendapatkan, menerima, mencintai, dan dicintai oleh seseorang itu sesederhana teori bahwa orang baik akan mendapatkan orang yang baik pula? Begitu juga sebaliknya? Bunda adalah seseorang yang baik, sangat baik bahkan, demikian juga dengan ayah. Mereka pernah beberapa kali bercerita bagaimana masa-masa indah mereka pacaran dulu, pahit manis perjuangan ayahku untuk mendapatkan bunda beserta restu dari orangtua mereka, sampai akhirnya mereka menikah dan mendapatkan aku sebagai anak satu-satunya. It was beautiful and everything went perfect until one day, my father decided to leave us for someone from hist past. So, did my parents deserve each other or no? Apakah bunda adalah orang yang jahat sehingga akhirnya harus menerima hal yang begitu buruk dari ayah, pria yang sangat dicintai dan dihormatinya? Did my father become a bad person because he did a bad thing? I don't even know the answer.

“Masih bingung sama kalimat dari buku yang kamu baca itu?” Rissa tiba-tiba saja sudah ada di depanku sambil meletakan sepiring tiramisu cake dan secangkir americano yang beberapa menit lalu kupesan.

Aku mengangguk mengiyakan.

I guess the web search engine didn’t work, huh?” ujarnya lagi, sekarang ia duduk di kursi di depanku.

Well, I think nothing can really give you the exact answer when it comes to love, including Google, am I right?” ucapku.

Rissa tersenyum mendengar jawabanku. “Yeah, you’re right. Enjoy your breakfast then.” katanya sambil bangkit dari duduknya untuk kembali bekerja menjaga counter. “And don’t think about it too much.

Aku tergelak mendengar ucapan Rissa, “Makasih, Sa.” kataku kemudian.

Aku sedang berada di Hugs with Mugs, coffee shop milik Rissa dan ibunya, Tante Sofia, yang sudah hampir dua tahun berdiri di Jalan Braga, Bandung. Sejak pertama kali Hugs with Mugs dibuka, aku selalu ke sini setiap pagi dan setiap harinya. Hugs with Mugs beroperasi dari pukul delapan pagi sampai pukul sepuluh malam, dari Senin sampai Minggu. Menu yang disajikan berupa desserts dan hot beverages. Mengapa aku selalu ke sini setiap pagi? Pertama, mungkin karena aku suka makanan manis dan kopi-kopian. Just in case you don’t know yet, desserts and coffee are definitely perfect match. Chocolate lava cake with capuccino or espresso, americano with red velvet cupcake, cheesecake with caffĂ© mocha, blueberry muffin with caffĂ© macchiato, and so on. You really have to try pairing them all. They taste like heaven.

Alasan kedua mengapa aku selalu ke sini tiap pagi karena rasa makanan di sini enak-enak dan membuatku ketagihan. Serius, deh, aku sudah mencoba semua menunya. Tante Sofia adalah alumni Australian Patisserie Academy di Sydney, New South Wales, Australia. Ia juga pernah bekerja di salah satu toko kue terbesar di Sydney sebagai pastry chef, jadi rasa desserts di Hugs with Mugs ini tidak perlu diragukan lagi. Untuk urusan kopi, Hugs with Mugs punya Sendy, adik Tante Sofia yang seumuran dengan aku dan Rissa. Sendy adalah seorang barista yang berpengalaman dalam hal meracik kopi dan pernah bekerja di salah satu kafe kenamaan di Bali. Hugs with Mugs dijalankan oleh lima orang, termasuk Rissa dan Tante Sofia, dan aku kenal baik dengan mereka semua. Kebetulan jarak rumahku dan Rissa juga lumayan dekat.

Alasan ketiga mengapa aku selalu ke sini setiap pagi adalah karena kelas di kampusku selalu dimulai di atas pukul sepuluh pagi. As a morning person who always wakes up early, I need some place to go to spend my time every morning, right? I mean, what will I do alone in my empty house? Bunda selalu berangkat kerja sebelum pukul tujuh setiap harinya, jadi daripada melamun sendirian di rumah, aku lebih baik di sini, hitung-hitung sarapan enak dengan harga tidak terlalu menguras kantong. Di sini aku biasanya mengerjakan tugas kampus yaitu menggambar sketch desain baju-bajuku dan apapun yang berhubungan dengan fashion design, menulis cerita pendek atau puisi, atau sekadar membaca buku. Bahkan jika sedang sepi, aku bisa mengobrol dengan Rissa.

Oh iya, ngomong-ngomong aku Arina Danica. Seperti kataku tadi—jika kalian menyimak, aku seorang mahasiswi jurusan fashion design di Bandung. Dan namaku, Danica, sejalan dengan kebiasaanku bangun pagi. Danica means morning star in Slavic. Tidak hanya karena persoalan nama dan juga karena aku harus melakukan salah satu kewajiban sebagai umat Islam, yaitu sholat Subuh, jika sedang dapat tamu bulanan pun aku selalu bangun pagi. It's just morning gives me a lot of energy and positive vibes. Seeing the dawn, the sun rises, the gold sky, feel the morning breeze, it cheers my whole day up. Menghirup udara pagi yang segar dan dingin membuatku bersemangat. That’s why I love morning so much.

Hugs with Mugs pagi ini belum ramai, hanya ada beberapa pengunjung, sekitar tiga sampai empat orang termasuk aku sekarang. Desain interior Hugs with Mugs didominasi oleh warna coklat. Coklat yang kata Rissa dapat mewakili manisnya desserts yang mereka jual dan biji kopi yang berwarna coklat. That makes sense. My favorite spot here is in this window seat. Aku hampir selalu duduk di meja yang berada di sebelah jendela besar yang menghadap ke jalan ini agar dapat melihat orang berlalu-lalang. I love seeing people and observe them. Melihat banyak orang dapat memberi berbagai inspirasi untukku. I think people really are different and unique. They also have different and unique stories. The more you see and get know people, the more unique stories you will get.

Aku sedang mengunyah tiramisu-ku sambil memperhatikan Jalan Braga yang sudah ramai, ketika kudapati seorang pria berjalan melintas tepat di depanku. Kami hanya dipisahkan oleh kaca jendela. Lelaki itu berjalan lambat, sambil mengetuk-ngetukan jarinya di layar ponsel pintarnya. Telinganya disumbat earphone. Badannya agak berisi dan tegap, kutaksir sekitar 175 sentimeter. Rambutnya yang ikal dan berwarna coklat tua, agak sedikit gondrong berantakan, terlihat cocok dengan kulitnya cerah. Dari samping aku dapat melihat hidungnya yang mancung dan ada brewok tipis di wajahnya. Pria ini rupanya berjalan memasuki Hugs with Mugs. Sekarang ia sedang berdiri di counter untuk memilih menu, ada Rissa di sana. Aku semakin leluasa memperhatikan lelaki itu lekat-lekat dari tempat dudukku. Ia mengenakan jeans dan jaket hitam, kaos merah hati, semi boots coklat, dan sling bag coklat tua. I haven't seen his face yet, but based on the way he dresses, I think he's a good looking guy. Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku kepada buku The Perks of Being A Wallflower yang tadi sedang kubaca ketika lelaki itu selesai dengan urusannya di counter dan berjalan ke arahku. Ia memilih window seat di depanku dan sekarang duduk membelakangiku. Aku menatap punggungnya. Aku merasa diperhatikan oleh Rissa dari ujung counter sana. Kudapati Rissa sedang tersenyum penuh semangat ke arahku. Aku tahu apa yang ada di dalam kepalanya sekarang. Aku pernah bercerita sosok pria impianku padanya dan ciri-cirinya memang sangat mendekati pria yang sekarang sedang kutatap punggungnya. Tiba-tiba ponselku di atas meja bergetar.


He's just really your ideal type of guy, isn't he?


Told ya, I know what she's thinking.


Probably. I don't see his face yet, so...

Balasku.

Trust me, he's hot!



Aku tergelak membaca isi pesan Rissa.

"Good morning, sweetheart.." aku mendengar sayup-sayup seseorang berkata demikian dari jauh, jadi aku mencari dari mana suara itu berasal. Ternyata Reza, kekasih Rissa sejak SMA.

Reza sedang bercakap-cakap dengan Rissa sekarang, mereka sesekali tertawa. Reza is also a good from of mine since junior high school, more like brother to me. Reza ngotot minta dikenalkan dengan Rissa ketika suatu kali ia melihat foto kami berdua di account sosial media milikku. Reza and Rissa are the best of friends of mine and make them get together as a couple probably the best thing that has ever happened to my friendship life.

Puas dengan pemandangan orang pacaran pagi-pagi begini, aku kembali menikmati suasana Braga sambil mengunyah tiramisu, sesekali menyeruput secangkir americano yang isinya tinggal setengah. Jalan Braga sendiri sudah cukup di kenal sejak masa pemerintahan Hindia-Belanda. Di sisi kanan kiri Jalan Braga terdapat kompleks pertokoan yang memiliki arsitektur dan tata kota bernuansa Hindia Belanda. Tata letak pertokoan di Braga mengikuti model yang ada di Eropa sesuai dengan perkembangan kota Bandung pada masa itu. Jalan Braga paling tepat dinikmati dengan cara berjalan kaki. Kawasan yang tidak pernah sepi ini dipenuhi toko-toko yang menjual berbagai jenis barang seperti aksesoris, oleh-oleh, makanan khas Bandung, dan lainnya.

"Lo nggak pernah bosan ngeliatin orang ya, Dan?" Reza tahu-tahu sudah ada di depanku, ia sedang memegang nampan kosong. Sepertinya baru saja mengantar pesanan pria asing di depanku ini. Reza memang suka mengantar pesanan ke pria-pria yang dianggapnya tampan dan keren, karena katanya tidak ingin Rissa digoda.

"Lo nggak pernah bosan ngagetin gue ya, Za?" jawabku sekenanya.

"You know I'm a full of surprises kinda guy."

"Please, stop.."

Reza tertawa keras. Dia memang benar-benar bukan pria yang cool dan jaim. "But seriously, why are you always looking at them tho?" sekarang ia duduk di kursi di depanku.

"And what's wrong with that?" aku balik bertanya.

"Nothing is wrong. I’m just wondering. What’s so special looking at people walking on the street, and you do that everyday in this last two years, right?"

"You’re absolutely right." aku mengangguk. "Gue memang selalu ke sini, melihat jalan dan pemandangan yang sama setiap harinya, tapi kan orang yang lewat beda-beda, Za. I guess you forget that the more...”

"The more you see and get to know people, the more unique stories you will get. Udah hafal gue sama kalimat lo itu, Dan. Gue nggak mungkin lupa." sela Reza, aku tertawa. "Itu kan kalau lo memang approach untuk kenalan dengan mereka, tapi ini kan cuma memperhatikan, Dan, dari mana lo bisa dapat cerita yang lo bilang unik itu?" lanjutnya.

"Begini ya, Bapak Reza, dapat cerita dari orang lain bukan hanya dengan cara kenalan, dari hanya memperhatikan pun juga bisa. Cara berpakaiannya, gesturnya, ekspresi wajahnya. Lo lihat laki-laki yang lagi berdiri di sana itu." aku menunjuk sesosok pria yang sedang berdiri di salah satu toko di sana, Reza mengikuti arah telunjukku. "Dia kerja di toko itu dari sekitar enam bulan yang lalu. Dia selalu sampai di sana sekitar pukul sembilan pagi, lalu dia akan membuka toko. Itu dia lagi berdiri menunggu seseorang, sebentar lagi juga datang orangnya. Perempuan, naik sepeda, membawa sebuah rantang." aku berhenti dan menunggu sejenak. Tidak lama kemudian, ada sesosok perempuan naik sepeda yang menyerahkan rantang kepada laki-laki tadi.

Reza menatapku tak percaya. "You do really observe them, don't you?" Reza berdecak sambil geleng-geleng.

"I do." aku tersenyum dan mengangguk mantap.

Reza tersenyum heran dan masih geleng-geleng kepala melihatku. Memang baru kali ini kami membahas hal semacam ini. Aku tertawa melihat ekspresi Reza barusan. "Udah sana lo, gak usah gangguin gue." ujarku lagi.

"Okay, Danica, have fun with your own thoughts and your own world then." Reza kembali ke Rissa yang masih berada di counter.

Pria di depanku sekarang sedang menunduk ke arah mejanya, sepertinya sedang menulis. By the way, aku lumayan penasaran ingin melihat wajahnya, tapi bagaimana caranya? Tidak mungkin kan aku tiba-tiba menghampirinya dan mengajak berkenalan, nanti dia pikir aku ini orang freak. Kulihat jam tanganku sudah menunjukan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Aku terkejut karena tidak menyadari ternyata aku sudah lumayan lama berada di sini. Sepertinya lebih baik aku bergegs ke kampus sekarang. Aku bangkit berdiri lalu meminum habis americano-ku kemudian memasukkan barang-barangku ke dalam ranselku sambil berjalan. Ketika melewati pria misterius tadi, karena terburu-buru memasukkan buku-bukuku ke dalam tas, aku menjatuhkan sebagian dari mereka. Tepat di depan pria tadi. Good, now I have to knee in front of him to get my books. Aku berbalik hendak mengambilnya dan ternyata pria itu juga sedang menunduk menggapai buku-bukuku dari kursinya. Sesaat mata kami bertemu. Tidak, ini tidak seperti adegan di FTV atau drama korea yang dibuat lambat dan kamera berputar di sekitar dua tokoh utama lalu mengalun lah lagu romantis. Adegan yang dibuat lelet, saling menatap berlama-lama, bahkan tanpa mengedip namun matamu tidak kelilipan, merupakan adegan teraneh dan paling tidak wajar bagiku. Dan sedikit menjijikkan. Yang barusan terjadi tidak demikian. Kejadian saling tatap ini hanya berlangsung beberapa detik, sangat cepat, namun aku dapat melihat dengan jelas kedua matanya yang tajam dan berwarna coklat tua. Kelopaknya yang teduh dan alisnya yang tebal dan tajam. I believe no one will ignore such a beautiful pair of eyes, plus all the details in his face. Belum lagi bibirnya yang cenderung tipis. I conclude that Rissa was right, this guy is hot.

Wait, what the hell am I thinking?






--The end of this episode. Episode 2 will be posted on Saturday, February 6th.--

1.30.2016

Pagi Para Perantau


Seperti biasa, ada suara kokok ayam jantan entah milik siapa yang setiap harinya melagu di pagimu yang lembab, mengisi fajar-fajar penuh warna oranye muda.

Adalah engkau yang berdesakan di jalanan demi sampai ke tempat tujuan yang kau sebut kantor sambil terkantuk-kantuk sisa bekerja semalam suntuk. Hatimu mengutuk bos terkutuk. Kau merasa pekerjaan paling berat setiap pagi adalah membuka mata karena cangkir-cangkir kopi hitam tadi malam hanya memberi khasiat beberapa jam semata.

Kau tidak tidur lagi kali ini, demi membahagiakan pekerjaan sang bos dengan harapan naik gaji. Ketika orang-orang pulas tidur untuk bermimpi, kau malah bermimpi untuk tidur.

Pagimu yang dingin dihadiahi asap-asap dari pengendara lain yang kau anggap kurang beradap. Dadamu pengap.

Decitan ban kendaraan mengisi pagi-pagimu yang beku, sebeku hatimu mendengar keinginan sang ibu yang memintamu pulang, namun kau tak punya cukup uang.

Teriakan kenek angkutan umum terdengar sayup-sayup di daun telingamu yang layu. Tidak ada perempuan dalam hidupmu, untuk tidur pun kau sering tak punya banyak waktu.


January 6th, 2016

1.03.2016

Memasang Bola Lampu


Kau berjinjit-jinjit mengangkat tanganmu menuju ke atas kepalamu, sulit. Menggapai-gapai apa yang ingin dicapai.

Kau memandang ke atas, tempat yang tak begitu tinggi. Pikirmu itu dapat kau capai dengan mudah menggunakan alat bantu apa saja, tangga bambu, tangga besi, kursi, enggrang jika keseimbanganmu bagus, atau bantuan dari seseorang yang lebih tinggi, jika mereka bersedia.

Kau mencari-cari segala bentuk bantuan yang kusebutkan tadi, namun tidak menemukan apapun. Kau kira kau memiliki segala alat bantu itu, nyatanya tidak. Kau harus mencarinya sendiri, segala bantuan tadi. Tidak seperti acara adu ketangkasan di televisi yang semua alat bantunya disuguhi dan kau hanya tinggal pilih.

Kau sendiri, berdiri menatap ke atas, tempat yang tidak begitu tinggi, di ruangan kosong berukuran sekian kali sekian meter yang tak kau tahu pasti. Kau sendirian, kepindahanmu ke tempat baru, lalu kau ingin memasang bola lampu. Tubuhmu rendah, tidak tinggi, dan kau sendiri, apa yang bisa kau lakukan dengan itu?

Kau berjinjit-jinjit mengangkat tanganmu menuju ke atas kepalamu, menggapai-gapai yang ingin kau capai, itu bahkan terasa sangat sulit, walau hanya untuk sekadar memasang bola lampu. Kau terus menggapai ruang hampa, hanya udara diam yang kau sentuh dengan kedua tanganmu. Kau lelah, susah-susah berpeluh basah, usahamu sia-sia.

Seperti hidup dan mimpi.

Kau bersama segala sanak saudara, sahabat, dan kerabat. Kau dan uangmu di dalam tabungan yang tak seberapa itu, serta benda elektronik canggih yang kau beli ketika rilis edisi terbaru. Namun kau sendiri. Kau sendiri.

Manusia-manusia penuh mimpi tidak akan merasa cukup bahagia dengan benda-benda mati jika mimpi dan hasratnya yang tinggi tak ia miliki. Kongkow-kongkow tiap malam Minggu, haha-hihi minum Martini, tidak berarti, ketika jam 3 pagi kau pulang ke sebuah apartemen mewah yang masih kau cicil setiap tahunnya, dan kau menyadari mimpi-mimpi yang ada dalam angan belum berada di genggaman.

Benda-benda mati hanya pelengkap kebahagiaan, mimpi-mimpi itulah yang membuatmu tetap hidup dan bertahan. Bersama puluhan teman-teman yang hanya ada ketika bersenang-senang, terbahak-bahak sampai beruarai air mata sejenak, lalu kau pulang dan lagi-lagi kau sendiri. Kau sendiri.

Jika tak ada bantuan dan dengan segala dayamu yang pas-pasan, serta kau tak pandai-pandai menggunakan kesempatan dan segala kemewahan, kau hanya akan berjinjit-jinjit tak berguna, menggapai-gapai yang ingin kau capai; mimpi, namun yang kau gapai hanya ruang hampa, udara diam yang menyentuh kedua tanganmu, dan hatimu yang gelisah.



3 Januari 2016
di sebuah ruang kosong yang gelap

12.30.2015

Kita Adalah Orang Yang Berjalan Pelan-pelan

Kita adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
berbeda dalam ruang dan waktu,
kau dan dawai-dawai itu,
aku bersama bibirku yang memilih bisu.

Kita adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
kemudian saling menemukan,
lalu ada sukmamu melingkupiku dan ketiadaanku.

Kita adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
kian melambat,
saling melepaskan genggaman yang dulu erat.

Kau dan aku adalah dua orang yang berjalan pelan-pelan,
memilih berpisah,
ketika dulu, hulu yang kita sebut tujuan,
tak lagi satu arah.

12.25.2015

Mimpi

Kau terbangun di tengah malam, menangisi mimpi-mimpi menyeramkan.
Benakmu dipenuhi bayangan-bayangan yang memburu.

Orang bilang mimpi adalah bunga tidur,
dan tidak ada yang perlu kau khawatirkan.
Bukankah bunga seharusnya indah?
Namun mengapa yang kau alami malah membuat napasmu terengah.

Sekelebat ingatan menghantui sudut pikiranmu
seakan-akan semua itu nyata padahal tidak.
Mimpi-mimpi buruk di malam-malam sunyi terus mengikuti.
Kau kualahan mengatur napas setelah menyaksikan kejadian mengerikan,
entah itu perampokan, pembunuhan, atau sosok-sosok asing yang menertawakan.

Mimpi tidak dapat menyentuhmu,
apalagi melukaimu.
Namun mimpi dapat mempengaruhi suasana hatimu, seharian,
dan ia dengan mudah menguasaimu.

Jangan biarkan hal-hal mengganggu jadi belenggu.
Apalagi itu hanya mimpi yang tak berarti.

Sekarang ambilah segelas air dan kembali berbaringlah,
kembalilah ke tidurmu.
Jangan lupa baca doa,
agar Tuhan melindungimu dari iblis-iblis pengganggu.

12.24.2015

Empat Dinding Abu-abu



Hujan mengguyur tanah kering di bawah khatulistiwa ini bagai peristiwa yang tak diduga-duga. Sudah lama aku tidak melihat hujan jatuh begitu keras, sekeras aku jatuh pada sesosok lelaki angkuh yang sekarang menjelma ingatan keruh.

Delapan tahun aku menempati ruangan dengan empat dinding berwarna abu-abu, saksi segala macam kisah, yang membahagiakan dan yang pernah membuatku hampir menyerah, baik berwarna maupun kelabu. Kalau mereka dapat bicara, kurasa mereka muak menyaksikan malam ini aku dapat tertawa gila lalu besoknya aku tenggelam dalam air mata lara.

Empat dinding abu-abu menemani kesendirianku yang tak kunjung berlalu. Aku selalu suka sendiri. Sebetapapun perhatian dan tampannya pacarku suatu kala, aku tetap punya banyak waktu untuk bercengkrama bersama diri tercinta. 

Empat dinding abu-abu menyaksikan betapa aku suka bercinta dengan segala yang kucinta. Segala jenis film, buku, puisi, musik, camilan enak yang tidak bergizi, petikan gitar fales, dan suara nyanyianku sendiri. Kekasih? Aku tidak akan bercinta dengan orang-orang yang memberikan cinta yang dangkal. Itu sama saja dengan menghina diri sendiri.

Mungkin aku akan berbesar hati mengucapkan maaf kepada mereka yang pernah mencintaiku dan merasa telah memberikan sepenuh hatinya tanpa ragu. Tapi aku masih tetap yakin kalau cinta mereka itu dangkal. Atau kadang aku yang kelewat pakai akal.

Bagiku, segala macam hubungan bisa diukur dengan logika. Bahkan hubunganmu dengan Tuhanmu. Kuyakini bahwa agamaku adalah agama paling logis. Yang kutahu beberapa ilmuwan negara-negara Eropa telah melakukan penelitian dan lalu berpendapat seperti demikian. Jadi jika kukatakan cinta mereka dangkal, itu karena aku percaya pada akalku yang mampu menakar.

Empat dinding abu-abu ini beda cerita. Ia tak perlu logika ketika melihatku terbahak karena orang yang jauh di seberang pulau berkelakar, kemudian esoknya meratapi orang yang sama karena mendadak memutuskan untuk pergi. Menyedihkan sekali, namun itulah bagian dari hidup yang mendewasakan. Tidak ada yang perlu diratapi.

Empat dinding abu-abu tidak perlu rasa sabar dan empati yang besar dan menenangkan. Tanpa itu semua dan dibiarkan sendiri pun aku akan sadar bahwa aku seringkali salah bersandar. Empat dinding abu-abu membiarkanku belajar pada hal-hal yang salah dan benar.

Kepada mereka, dinding-dinding kokoh yang malam ini melindungiku dari hujan yang tajam, aku berterimakasih karena telah senantiasa memberi kasih tanpa pamrih. Dan lagi ritual siang dan malam setiap harinya, menatapku tidur bagai batu dengan liur di bantal-bantal bau yang lama-lama membeku.


23 Desember 2015